Hari Air Sedunia, Peneliti UGM Ungkap Bahaya Logam Berat yang Cemari Sungai di Yogyakarta

Siti Lestari
Ilustrasi aliran sungai. (Foto: Pexels)
Ilustrasi aliran sungai. (Foto: Pexels)

YOGYAKARTA, Quarta.id– Masyarakat internasional kembali memperingati Hari Air Sedunia pada Jumat, 22 Maret 2024.

Momentum peringatan Hari Air Sedunia ini dimanfaatkan oleh dosen Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Lintang Nur Fadlillah, untuk mengingatkan masyarakat Yogyakarta akan bahaya yang mengintai akibat sungai tercemar limbah logam berat dan antibiotik.

BACA JUGA: World Water Day, Perubahan Iklim dan Ancaman Krisis Air

Menurutnya, air Sungai Code di Yogyakarta saat ini memiliki kandungan senyawa logam yang sangat tinggi.

Hal itu diketahui setelah ia dan tim mengumpulkan 24 sampel air permukaan sepanjang Sungai Code, termasuk sepanjang aliran sungai Merapi hingga muara pantai.  

“Kalau kita lihat sedimen di Yogya ini memang kandungan logamnya tinggi. Kita mengambil sampel pada limbah bengkel yang langsung dibuang ke sungai,” terang Lintang memaparkan hasil penelitiannya, Jumat (22/3/2024) dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, dikutip pada laman ugm.ac.id.

BACA JUGA: Peringati Hari Aksi Internasional untuk Sungai, Institut Francais Indonesia Gandeng Komunitas Bersihkan Sungai Ciliwung

Tak hanya menentukan kualitas dan kandungan sedimen sungai Code, riset tersebut turut memetakan sebaran titik penumpukan limbah dan sumber polutannya.

Selain kandungan logam berat, kata Lintang, pihaknya juga menemukan adanya kandungan antibiotik yang berlebihan.

Padahal kandungan antibiotik berlebihan tersebut bisa memengaruhi kualitas air sungai. Kandungan antibiotik di lingkungan sungai Code ini terakumulasi dari banyak sumber, seperti dari limbah rumah sakit, limbah kimia, bahkan dari limbah peternakan.

BACA JUGA: Forum Bali Ocean Days, Bahas Ekonomi Biru dan Isu Pembangunan Berkelanjutan

Menurut Lintang, tingginya kandungan logam dan antibiotik berlebihan di sungai Code ini ditengarai akibat sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang masih lemah.

Meski diakui mayoritas limbah di sungai yang ada di Yogyakarta tidak berasal dari pabrik atau industri besar, melainkan dari rumah tangga dan usaha domestik mikro dan menengah.

Dia lantas merekomendasikan agar pemerintah daerah memberikan perhatian serius pada pengelolaan IPAL di Kota Yogyakarta. Sistem IPAL disebutya berperan penting dalam mengatasi masalah pencemaran air sungai.

BACA JUGA: Perubahan Iklim Bisa Membuat Kopi Tak Lagi Senikmat Dulu

Sementara ini pengawasan IPAL untuk industri makro, seperti pabrik dan perhotelan sudah memiliki ketentuan ketat, namun untuk skala mikro seperti limbah rumah tangga belum dilakukan secara maksimal.

“Tidak banyak desa di Yogyakarta yang secara aktif memiliki sistem IPAL, karena keterbatasan sumber daya dan perhatian masyarakat akan lingkungan yang masih minim,” katanya.

Ia mengkhawatirkan apabila sungai terus tercemar oleh logam berat dan residu antibiotik maka bisa beresiko apabila dikonsumsi oleh masyarakat.

BACA JUGA: Yuk, Jaga Habitat dan Kelestarian Burung Air, Ini Peran Pentingnya bagi Manusia dan Alam

Bahkan dalam beberapa kasus, air tercemar juga menjadi penyebab munculnya kasus stunting pada anak-anak.

Padahal Pemerintah berkomitmen untuk mencapai target poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-6, yakni akses air bersih dan sanitasi.

“Untuk itu, UGM turut berupaya dalam mendukung implementasi riset untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya dengan memperhatikan kualitas air yang dikonsumsi,” pungkasnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *