World Water Day, Perubahan Iklim dan Ancaman Krisis Air

Ahmad Riyadi
Ilustrasi sumber air. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi sumber air. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, Quarta.id- 22 Maret setiap tahunnya, diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Peringatan ini menjadi refleksi untuk mengoreksi sikap kita terhadap alam, dalam kaitannya dengan keberadaan Air.

Salah satu yang menjadi isu strategis adalah perubahan iklim yang  memperburuk kelangkaan air dan bahaya yang berhubungan dengan air (seperti banjir dan kekeringan).

Karena kenaikan suhu mengganggu pola curah hujan dan keseluruhan siklus ai. Demikian ditulis oleh laman un.org.

BACA JUGA: Earth Hour 2024: Anak Muda Didorong Tunjukkan Aksi Nyata untuk Lingkungan

Laman itu menyebut, air dan perubahan iklim mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan iklim mempengaruhi air dunia dengan cara yang kompleks.

“Mulai dari pola curah hujan yang tidak dapat diprediksi hingga menyusutnya lapisan es, naiknya permukaan air laut, banjir dan kekeringan. Ssebagian besar dampak perubahan iklim disebabkan oleh air,” lanjut isi pernyataan tersebut.

Website PBB itu juga menulis, saat ini sekitar dua miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman ( Laporan SDG 2022 ).

BACA JUGA: Hadapi Climate Change, Petani Didorong Miliki Literasi Iklim

Sekitar setengah populasi dunia mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama sebagian tahun ini (Data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC))

Angka-angka ini diperkirakan akan meningkat, diperburuk oleh perubahan iklim dan pertumbuhan populasi ( Data World Meteorological Organization (WMO)).

Disebutkan pula, hanya 0,5 persen air di bumi yang dapat digunakan dan tersedia sebagai air tawar – dan perubahan iklim berdampak buruk terhadap pasokan air tersebut.

BACA JUGA: Perubahan Iklim Bisa Membuat Kopi Tak Lagi Senikmat Dulu

Selama dua puluh tahun terakhir, penyimpanan air di bumi – termasuk kelembaban tanah, salju dan es – telah menurun dengan kecepatan 1 cm per tahun, yang berdampak besar pada ketahanan air (Data WMO).

Peringatan BMKG Terkait Krisi Air

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati melalui laman bmkg.go.id, menyebut krisis air semakin menjadi ancaman serius dan harus jadi perhatian seluruh negara.

Menurutnya, perubahan iklim menyebabkan terganggunya siklus hidrologi, sehingga memicu terjadinya krisis air.

BACA JUGA: Bali Tuan Rumah Forum Air Sedunia 2024, Hadirkan Ribuan Peserta dari Berbagai Negara

“Krisis air terjadi hampir di seluruh belahan dunia dan menjadi krisis global yang harus diantisipasi setiap negara. Tidak peduli itu negara maju atau berkembang. Karenanya, isu ini harus menjadi perhatian bersama seluruh negara tanpa terkecuali,” ungkap Dwikorita.

Pernyataan itu dikemukakan Dwikorita dalam The 10th World Water Forum Kick Off Meeting di Jakarta Convention Centre, Jakarta, Rabu (15/2/2023) lalu.

Dwikorita yang juga merupakan anggota Dewan Eksekutif World Meteorological Organization (WMO) menyampaikan bahwa ancaman krisis air akibat perubahan iklim ini sudah terlihat sangat jelas.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem Hantui Mudik, Petugas Penyeberangan Diminta Tak Sepelekan Informasi BMKG

“Terus meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca yang berdampak pada meningkatnya laju kenaikan temperatur udara, mengakibatkan proses pemanasan global terus berlanjut, dan berdampak pada fenomena perubahan iklim,” ucapnya.

Fenomena ini, kata dia, akan terus berlanjut apabila laju peningkatan emisi Gas Rumah Kaca tidak dikendalikan atau ditahan, dan menyebabkan semakin cepatnya proses penguapan air permukaan.

Hal tersebut mengakibatkan ketersediaan air semakin cepat berkurang di suatu lokasi belahan bumi, namun sebaliknya terjadi hujan yang berlebihan (ekstrem) di lokasi atau belahan bumi yang lain.

BACA JUGA: BMKG Minta Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi, Ini Penjelasannya!

Ketersediaan air permukaan dan air tanah yang makin berkurang ini, lanjut Dwikorita, akan memengaruhi ketersediaan air bersih di berbagai belahan bumi.

Selain itu, perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan proses turunnya hujan menjadi ekstrem dan tidak merata. Di mana sebagian besar daerah di bumi memiliki curah hujan yang tinggi, sedangkan di daerah bagian lain tidak.

Dwikorita mencontohkan, WMO pada tahun 2022 yang lalu melaporkan bahwa kekeringan dan kelangkaan air telah melanda Eropa, Amerika Utara Barat, Amerika Selatan Barat, Mediterania, Sahel, Amerika Selatan, Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, Australia Tenggara dan berbagai wilayah lain di planet ini.

BACA JUGA: BMKG Sebut Indonesia Masuk Musim Pancaroba, Ini 4 Penyakit pada Si Kecil Yang Perlu Moms Wapadai

Namun, pada saat yang sama, banjir juga terjadi Easton Sahil, Pakistan, Indonesia, hingga Australia Timur.

“Tidak ada perbedaan antara negara maju dan negara berkembang. Keduanya sama-sama menderita akibat kekeringan dan banjir. Jadi, sekali lagi kekeringan dan banjir adalah dampak yang sama akibat dari dari kencangnya laju perubahan iklim yang diperparah dengan kerusakan lingkungan” tuturnya.

Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan bahwa akibat perubahan iklim, kejadian-kejadian ekstrem lebih kerap terjadi, terutama kekeringan dan banjir. Jika sebelumnya rentang waktu kejadian berkisar 50 – 100 tahun, maka kini rentang waktu menjadi semakin pendek atau frekuensinya semakin sering terjadi dengan intensitas atau durasi yang semakin panjang.

“Krisis air dan berbagai kejadian ekstrem tersebut dapat berdampak terjadinya krisis pangan di berbagai belahan dunia, sebagaimana yang telah diprediksi oleh WMO,” imbuhnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *