Bakti M. Munir
JAKARTA, QUARTA.ID- Olahraga, khususnya sepakbola, selalu ingin dipisahkan dari politik, namun kenyataan di lapangan tidak semudah itu.
Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang berlangsung dua pekan ini menjadi bukti terbaru. Iran hampir dipastikan menarik diri dan batal tampil di Piala Dunia FIFA 2026. Penyebabnya, turnamen akan digelar di AS– negara yang kini gencar menyerang Iran.
BACA JUGA: Arab Saudi Resmi Tuan Rumah Piala Dunia 2034, Aktivis HAM Kecam Keputusan FIFA
Bagi sepakbola, perang AS-Israel vs Iran “tiba di waktu yang tidak tepat”. Perang ini berkecamuk justru pada masa-masa akhir persiapan Piala Dunia. Situasi menjadi rumit karena Iran yang lolos sebagai salah satu wakil Asia harus bermain di AS. Selain AS, Meksiko, dan Kanada juga bertindak tuan rumah Piala Dunia 2026.
Logika sederhananya, bagaimana mungkin tim Iran akan menjalani laga di stadion AS sedangkan Teheran dan kota-kota lain Iran saat ini sedang dihujani bom dan rudal oleh negara Donald Trump?
Piala Dunia tersisa tiga bulan sedangkan perang masih terus berkecamuk dan belum ada tanda-tanda bakal berakhir.
BACA JUGA: Yordania, Tim Semenjana yang Menulis Dongeng di Piala Asia 2023
Dampak perang tidak hanya mengenai Iran. Tetangganya Irak juga terimbas. Babak play-off yang akan dijalani Iran terancam tertunda akibat situasi udara negara Teluk ini tidak memungkinkan untuk penerbangan.
Mengutip Al Jazeera Sport ini lima masalah yang harus diselesaikan oleh FIFA sebelum pertandingan pertama Piala Dunia 2026 digelar pada 11 Juni 20206 antara Meksiko vs Afrika Selatan.
Menteri Olahraga Iran mengatakan pada Rabu (11/3/2026) bahwa negaranya tidak dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia setelah AS membunuh pemimpin tertingginya.
BACA JUGA: Heboh, Gara-gara Cetak Hattrick Striker Timnas Irlandia Ini Jadi Nama Bandara Internasional
Ayatollah Ali Khamenei dibunuh pada hari pertama perang AS-Israel, dan semua pertandingan grup Piala Dunia tim sepak bola nasionalnya akan dimainkan di kota-kota AS.
Serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari. Sejauh ini, 1.255 orang telah tewas di Iran dan lebih dari 12.000 orang terluka.
Iran membalas dengan serangan terhadap Israel, pangkalan militer AS di negara-negara tetangga di Timur Tengah, dan infrastruktur di wilayah tersebut.
BACA JUGA: City Cetak Sejarah Juara Empat Kali Beruntun atau Arsenal Akhiri Penantian 20 Tahun?
“Mengingat rezim korup ini (AS) telah membunuh pemimpin kita, dalam keadaan apa pun kita tidak boleh berpartisipasi dalam Piala Dunia,” kata Menteri Olahraga Ahmad Doyamali kepada televisi pemerintah.
Sebaliknya, apakah AS bersedia menjadi tuan rumah bagi Iran di Piala Dunia saat terjadi perang? Presiden AS Donald Trump awalnya mengatakan akan “menyambut baik” partisipasi Iran di Piala Dunia, sebagaimana dituturkan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Sebelum pengumuman oleh menteri Iran, Infantino melalui Instagram pada Rabu menyatakan bahwa meskipun terjadi perang di Timur Tengah, Trump telah menegaskan kembali pendiriannya mengenai keterlibatan Iran selama pertemuan antara keduanya untuk membahas turnamen mendatang.
BACA JUGA: Kisah Han Willhoft-King: Nyaris Perkuat Timnas, Pensiun Dini dari Sepakbola demi Lanjut Kuliah
Saat pengundian berlangsung, AS dan Iran bisa saling berhadapan di turnamen tersebut jika mereka berdua finis kedua di grup masing-masing. Hasilnya adalah pertandingan eliminasi pada 3 Juli di Dallas.
Sementara jika AS sendiri menolak menjadi tuan rumah bagi tim Iran, maka FIFA bisa mencopot mereka sebagai tuan rumah Piala Dunia – nasib yang sudah menimpa Indonesia.
Sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 putra tiga tahun lalu, Indonesia menolak menyambut Israel. FIFA membatalkan tuan rumah turnamen hanya beberapa minggu sebelum pertandingan pertama yang dijadwalkan dan memindahkan kompetisi tersebut ke Argentina.
BACA JUGA: Sepakbola Akan Terapkan Aturan Kartu Biru, untuk Pelanggaran Apa?
Lantas, apa kabar dengan Irak yang akan menjalani pertandingan playoff kualifikas? Irak menghadapi masalah logistik besar akibat perang sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia pada 31 Maret.
Pemenang playoff antarbenua yakni Irak melawan Suriname atau Bolivia akan memperebutkan tiket terakhir ke Piala Dunia 2026. Namun, apes bagi Irak, wilayah udaranya ditutup hingga 1 April karena perang, dan skuadnya sebagian besar terdiri dari pemain dari liga domestik.
Dengan skuad yang berjuang untuk berkumpul sepenuhnya untuk pertandingan tersebut, pelatih kepala tim nasional Irak, Graham Arnold, meminta FIFA pada Senin (9/3/2026) untuk menunda kualifikasi timnya.
BACA JUGA: Hukuman 7 Laga Bentancur, Inilah Sepakbola Inggris yang Tak Beri Ruang untuk Rasisme
Pertandingan tersebut akan dimainkan di Monterrey, Meksiko, dan negara tuan rumah sudah mengeluarkan sejumlah visa untuk para pemain Irak di kedutaan mereka di Qatar pada 8 Maret.
Lebih parahnya lagi, Meksiko tidak memiliki kedutaan besar di Irak untuk para pemain yang tersisa.
Meksiko telah memberikan jaminan kepada Irak bahwa mereka akan “memberikan semua bantuan yang diperlukan dalam mendokumentasikan anggota tim nasional Irak”.
Masalah Meksiko
Perang bukan satu-satunya gangguan Piala Dunia. Kekerasan di Meksiko telah menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan negara itu untuk menjadi tuan rumah.
Gelombang kekerasan dipicu di negara itu pada 23 Februari setelah pembunuhan seorang gembong narkoba yang memimpin salah satu organisasi kriminal paling kuat di Meksiko.
BACA JUGA: Energi Celine Dion pada Upacara Pembukaan Olimpiade Paris, Perdana Tampil Live Sejak Sakit
Orang-orang bersenjata membakar mobil dan memblokir jalan raya di lebih dari setengah lusin negara bagian segera setelah berita pembunuhannya muncul.
Pertandingan pertama Piala Dunia digelar di Mexico City dan pertandingan kedua di hari yang sama di Guadalajara, yang diguncang kekerasan bulan lalu.
Pejabat Meksiko kemudian berusaha meyakinkan otoritas FIFA dan calon wisatawan bahwa turnamen tersebut akan aman.
BACA JUGA: Begini Suasana Ruang Ganti Pemain Seusai Indonesia Tumbangkan Arab Saudi 2-0
Pada Jumat (6/3/2026) Presiden Claudia Sheinbaum mengatakan Meksiko akan mengerahkan sebanyak 100.000 anggota pasukan keamanannya selama kompetisi tersebut. Dia coba meyakinkan para penggemar sepak bola bahwa “tidak ada risiko” untuk datang ke negara tersebut.
Bagaimana dengan Tiket?
Hampir 2 juta tiket terjual dalam dua tahap penjualan pertama untuk Piala Dunia 2026. Antusiasme sangat tinggi sehingga tiket mengalami kelebihan permintaan lebih dari 30 kali.
Tiket termahal untuk pertandingan pembukaan diiklankan dengan harga hampir USD900 atau Rp15,3 juta sedangkan untuk pertandingan babak final, angkanya lebih dari USD8.000 atau sekitar Rp136 juta.
Tiket secara umum berharga setidaknya USD200 atau Rp3,4 juta untuk pertandingan yang melibatkan negara-negara terkemuka. Tiket termurah untuk babak final berharga USD2.000 atau Rp34 juta.