Trump Kena Karma karena Serang Iran: Tak Satu pun Sekutu Barat Mau Bantu

Redaksi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: Getty Images)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: Getty Images)

JAKARTA, Quarta.id– Bagaimana rasanya ketika sedang butuh bantuan banget tapi teman-teman geng malah kompak nggak ada yang mau bantu? Pasti bingung dan kesal setengah mati.

Kurang lebih itu yang dirasakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ketika negara-negara Eropa yang selama ini dianggap sekutu semuanya menolak untuk ikut serta berperang melawan Iran.

Mengapa Trump dicuekin dan bagaimana masa depan aliansi Amerika-NATO? Berikut analisisnya dikutip dari Reuters.

BACA JUGA: Iran Bukan Arab melainkan Bangsa Persia, Peradabannya Berusia Ribuan Tahun

Semua berawal saat Trump meminta negara-negara sekutunya untuk bergabung melawan Iran dan mengerahkan kapal mereka untuk membuka blokade Selat Hormuz. Alih-alih membantu, para pemimpin Eropa malah tidak menggubris ajakan Trump. Sedihnya lagi yang menolak itu justru sekutu-sekutu terdekat AS.

Satu di antara yang blak-blakan menolak adalah Kanselir Jerman Friedrich Merz. Kepada anggota parlemen Jerman, Rabu (18/3/2026) Merz bilang, ia ‌setuju Iran tidak boleh mengancam negara-negara tetangganya di Timur Tengah, namun untuk membantu AS ia ragu lantaran tidak memahami alasan di balik serangan yang dilancarkan AS-Israel ke Iran.

BACA JUGA: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh Tewas Terbunuh di Iran

“Sampai hari ini, tidak ada rencana yang meyakinkan mengenai bagaimana operasi ini dapat berhasil. Washington belum berkonsultasi dengan kami dan tidak mengatakan bahwa bantuan Eropa diperlukan,” katanya kepada anggota parlemen dilansir Reuters, Rabu (19/3/2026).

Bagi pemimpin negara Eropa, naif jika mau begitu saja mengikuti apa maunya Trump. Alasan mereka menolak terlibat langsung dalam operasi militer AS-Israel melawan Iran, karena khawatir akan terjebak dalam konflik yang ujungnya tidak dapat diprediksi.

Belum lagi tujuan perang itu tidak sepenuhnya bisa dipahami dan tidak populer di kalangan warga negara mereka sendiri.

BACA JUGA: Ini Pernyataan Hamas Seusai Ismail Haniyeh Terbunuh di Iran

Negara Eropa enggan didikte apalagi dimanipulasi. Pemimpin Eropa sudah pasti menganalisa manfaat dan mudaratnya ketika membantu AS.

Mereka meyakini bahwa manfaat dengan tetap berada di luar konflik lebih besar dibandingkan mengambil berbagai risiko terhadap hubungan Transatlantik yang sudah berada di bawah tekanan parah sejak perang Ukraina hingga adanya perselisihan tarif.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, juga menegaskan sikapnya yang senada dengan bosnya. “Ini bukan perang kami, kami belum memulainya,” ujarnya.

BACA JUGA: Dukung Rakyat Palestina, Kanada Stop Penjualan Senjata ke Israel

Bukan hanya Merz yang terang-terangan menolak membantu. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menegaskan tidak mau ikut-ikutan Amerika. “Kami bukan pihak yang terlibat dalam konflik,” tegasnya.

Eropa Melawan Perang Iran
Masyarakat Eropa telah lama khawatir bahwa kemarahan Trump akibat ditolak bisa berakibat pada pengabaian atas Ukraina, atau dia akan mencoba memaksa Kyiv untuk menerima kesepakatan yang menguntungkan Moskow.

Dalam perang Rusia vs Ukraina, AS memberi bantuan ke Ukraina, berupa ekonomi, militer, dan intelijen yang nilainya mencapai USD188 miliar pada akhir 2025

Keberadaan aliansi NATO pun saat ini dipertanyakan eksistensinya. Itu dipicu sikap Trump yang ingin mengambil Greenland dari sesama anggota NATO, Denmark, pada awal tahun ini. Sikap arogan Trump itu mengguncang para pemimpin Barat.

BACA JUGA: Tegas! Delegasi Palestina Tolak Salaman dengan Israel di Olimpiade Paris

Meskipun sejauh ini belum memberikan indikasi akan menghukum sekutu NATO, Trump mengatakan, para pemimpin Eropa itu telah melakukan “kesalahan yang sangat bodoh” dengan tidak bergabung dengan AS dalam operasi militer di Iran.

Trump secara khusus mencemooh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang menurutnya “bukan Winston Churchill”, pemimpin Inggris selama Perang Dunia Kedua.

Namun Starmer dan lainnya mempunyai opini publik yang hasilnya berpihak pada mereka. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov menunjukkan bahwa persentase warga Inggris menentang serangan ke Iran sebesar 49% hingga 28%.

BACA JUGA: ICJ Putuskan Pendudukan Israel di Palestina Ilegal dan Harus Segera Diakhiri

Hal ini telah memaksa partai Reformasi Inggris yang dipimpin Nigel Farage dan oposisi konservatif untuk mengurangi dukungan awal mereka terhadap serangan AS dan Israel.

“Saya adalah pengkritik terbesar Keir Starmer, namun perang kata-kata yang datang dari Gedung Putih adalah hal yang kekanak-kanakan,” kata pemimpin oposisi konservatif Kemi Badenoch.

“Saya tidak suka melihat Perdana Menteri kami dimarahi oleh para pemimpin asing,” kata Robert Jenrick dari Reform UK.

BACA JUGA: Tiga Negara Eropa Resmi Akui Negara Palestina, Menlu Norwegia: Tonggak Sejarah!

Di Spanyol, Perdana Menteri Sanchez dengan cepat mengecam serangan terhadap Iran dan menyebutnya ‌sebagai tindakan yang ceroboh dan ⁠ilegal. Dia menepis ancaman Trump untuk memutuskan perdagangan dengan Spanyol jika Negeri Matador tidak mengizinkan pangkalan yang dioperasikan bersama digunakan untuk perang.

“Kami tentu saja tidak akan menjadi pengikut siapa pun, kami tidak akan menoleransi ancaman apa pun dan kami akan mempertahankan nilai-nilai kami,” kata Wakil Perdana Menteri Maria Jose Montero pada awal Maret.

BACA JUGA: Indonesia Dorong Negara Lain Tiru Spanyol, Norwegia, dan Irlandia yang Resmi Akui Negara Palestina

Sikap pemerintah ini juga dianut oleh masyarakat Spanyol, dengan 68% menyatakan dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh perusahaan Spanyol 40db bahwa mereka menentang perang.

Sebuah survei yang dilakukan oleh ARD DeutschlandTrend menunjukkan 58% warga Jerman menentang perang sementara 25% mendukungnya. Kritik bahkan datang dari sayap kanan Alternatif untuk Jerman, sebuah partai yang mendukung pemerintahan Trump.

BACA JUGA: Indonesia Kecam Penembakan Warga Palestina oleh Tentara Israel Saat Antre Bantuan Makanan di Gaza

“Donald Trump dimulai sebagai presiden perdamaian – dia akan berakhir sebagai presiden perang,” kata salah satu pemimpinnya, Tino Chrupalla.

Eropa Khawatir Trump Tak Bisa Diprediksi
Pemerintahan di Eropa mengatakan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam perang yang tidak dapat mereka suarakan dan tidak dapat melihat hasil akhirnya.

Seorang pejabat Eropa, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas yang terlibat, mengatakan bahwa tujuan perang Amerika tidak didefinisikan atau jelas, dan mungkin berbeda dari tujuan perang Israel, terutama mengenai pergantian rezim.

BACA JUGA: Konflik Israel-Palestina, Pengamat: Berpeluang Beri Dampak Buruk bagi Ekonomi Indonesia

Tanda lain dari ketegangan ini adalah Merz dan tokoh lainnya mengkritik Trump karena melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia dalam upaya untuk meredakan melonjaknya harga minyak global, dan menunjukkan bahwa AS telah membutakan sekutu-sekutunya.

Negara-negara Eropa merespons perang di Iran namun dengan cara mereka sendiri. Starmer mengatakan Inggris bekerja sama dengan sekutunya dalam rencana membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur transportasi 20% minyak dunia.

Prancis telah berupaya membentuk koalisi untuk mengamankan selat tersebut setelah situasi keamanan stabil – dan tanpa peran AS.

BACA JUGA: Palestina Menang Telak di Majelis Umum PBB, 143 Negara Dukung Hak dan Keistimewaan Diperluas

Paris telah berkonsultasi dengan negara-negara Eropa, Asia, termasuk India, dan Teluk Arab selama seminggu terakhir mengenai rencana yang pada akhirnya akan melibatkan kapal perang mengawal kapal tanker dan kapal komersial.

“Pekerjaan ini memerlukan diskusi dan deeskalasi dengan Iran,” kata PM Macron.

BACA JUGA: Kemlu Nyatakan Tak Ada WNI yang Terdampak Serangan Iran ke Israel

Pada akhirnya, para pemimpin Eropa berupaya mengedepankan persatuan dan belajar mengelola apa yang mereka lihat sebagai kepemimpinan Trump yang tidak menentu.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara minggu ini bahwa blok tersebut “sekarang lebih tenang, karena kami… memperkirakan hal-hal yang tidak terduga akan terjadi sepanjang waktu dan menerima apa adanya, bersikap tenang, dan tetap tenang.”

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08