Bakti M. Munir
JAKARTA- Quarta.id– Kasus penculikan balita Bilqis di Makassar jadi alarm bagi para orang tua. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak demi menghindarkan mereka dari risiko kejahatan.
Kasus Bilqis satu dari kejadian penculikan anak yang menghebohkan publik. Beruntung anak usia 4 tahun yang hilang sejak 2 Oktober 2025 bisa ditemukan polisi setelah dibawa kabur sindikat penjualan anak ke wilayah Suku Anak Dalam di Jambi.
BACA JUGA: Waspada Child Grooming, Orang Tua Harus Makin Ketat Mengawasi Aktivitas Anak di Internet
Sebelum kasus Bilqis, baru-baru ini di Jakarta, dua anak berusia 10 dan 4 tahun ditemukan telantar di Tol Wiyoto Wiyono, Papanggo, arah Ancol.
Kedua anak tersebut bingung usai diturunkan di jalan setelah diajak pergi orang tak dikenal menggunakan motor.
BACA JUGA: Tragedi Kendari: SOS Perlindungan Perempuan dan Anak!
Sebelumnya pada Maret 2025, bocah Alvaro Kiano berusia 6 tahun asal Pesanggrahan, Jakarta Selatan, juga hilang diduga diculik usai salat Ashar di masjid. Delapan bulan setelah kejadian, keberadaan sang anak belum diketahui.
Langkah Melindungi Anak
Bagaimana sebaiknya orang tua mengasuh dan mengawasi anak agar terhindar dari berbagai ancaman kejahatan terutama penculikan?
Kepala, Pusat Kajian Gender dan Anak IPB University, Yulina Eva Riany mengatakan, seiring banyaknya kejadian penculikan anak, perlindungan adaptif oleh orangtua menjadi sangat penting.
BACA JUGA: Alarm Darurat Perundungan Anak!
Perlindungan adaptif adalah upaya memberikan rasa aman sambil tetap mendukung kemandirian anak secara bertahap sesuai usia perkembangan.
Pengasuhan ini diakui bukan bentuk overprotection, yaitu melarang anak ke mana-mana atau membuat anak takut pada dunia.
“Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah perlindungan adaptif, yaitu memberikan rasa aman sambil tetap mendukung kemandirian anak secara bertahap sesuai usia perkembangan,” ujarnya kepada Quarta.id, Sabtu (15/11/2025).
BACA JUGA: 5 hingga 10 % Anak Indonesia Alami Speech Delay, Screen Time Jadi Salah Satu Pemicu
Dosen yang juga pakar pengasuhan dan perkembangan anak ini menyarankan enam langkah perlindungan yang dapat dilakukan orang tua. Pertama, memberi pengawasan yang memadai (adequate supervision).
Orangtua disebut perlu memastikan anak selalu berada dalam jangkauan pengawasan sesuai usianya.
Konsep ini sejalan dengan teori pengasuhan positif bahwa pengawasan adalah bentuk cinta, bukan bentuk kekangan.
“Contoh, misalnya mengantar dan menjemput anak, terutama di lingkungan rawan. Juga tidak membiarkan anak berjalan sendiri di area publik,” ujarnya.
BACA JUGA: Kerja Seharian di Depan Laptop, Waspadai Computer Vision Syndrome!
Kedua, mengajari anak keterampilan keselamatan (safety skills).
“Anak perlu diberi keterampilan praktis untuk melindungi diri. Dalam pengasuhan positif, ini disebut skill-building, yaitu membekali anak agar mampu membuat keputusan aman,” lanjutya.
Dia lantas mengingatkan pentingnya anak diajari aturan keselamatan tubuh (body safety rules). Anak harus tahu tiga prinsip dasar mengenai ini.
BACA JUGA: Mengenal Platform “Penjaring”, Diluncurkan Kemendikbudristek untuk Tingkatkan Literasi Anak-anak
“My body belongs to me”, itu artinya tubuh tidak boleh dipegang orang asing,” terangnya.
“Kemudian, Say No, Go, Tell, yang maknanya adalah berani menolak, segera pergi, lalu ceritakan pada orang dewasa yang dipercaya,” lanjutnya.
“Lalu Safe versus Unsafe Adults, yang artinya tidak semua orang dewasa itu aman,” katanya.
Keluarga dan guru di sekolah kerap mengajarkan kepada anak untuk “tidak ikut orang asing”. Yulina mengungkap sisi lemah dari anjuran tersebut.
BACA JUGA: Waspada, Remaja Rentan Alami Kekerasan Seksual Saat Gunakan Aplikasi Kencan
Dia menguraikan, dalam banyak kasus, pelaku tidak selalu tampak asing atau menyeramkan. Karena itu, anak perlu diberi pemahaman bahwa bahaya tidak selalu terlihat dari “siapa orangnya”, tetapi dari “situasinya”.
“Maka, hal penting diajarkan ke anak adalah jangan pergi dengan siapa pun tanpa izin orang tua, meskipun orang itu mengatakan orang tua menyuruhnya,” jelasnya.
“Keluarga juga sangat penting memiliki password keluarga yaitu kata sandi khusus yang hanya diketahui keluarga.
BACA JUGA: Anak Kerap Saksikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Ini Pengaruh Buruknya di Masa Depan
Jika seseorang tidak tahu password tersebut anak tidak boleh ikut.
Langkah perlundungan ketiga adalah membangun komunikasi terbuka dan responsif.
Yulina menyebut, anak yang dekat dengan orang tua akan lebih berani melapor jika melihat atau mengalami sesuatu yang aneh.
“Karena itu orang tua perlu mendengarkan anak tanpa menghakimi,” sarannya.
BACA JUGA: Indonesia Ingatkan Ancaman Penggunaan Teknologi AI untuk Pendanaan Terorisme
Orang tua juga perlu menunjukkan respons empatik saat anak bercerita. Misalnya, rutin bertanya tentang aktivitas harian anak, teman-teman, perjalanan pulang, pengalaman di luar rumah.
“Jika anak terbiasa bercerita, maka ia akan lebih mudah mengenali dan melaporkan situasi berbahaya,” terangnya.
BACA JUGA: Ingin Anak Senang Membaca Buku, Mulailah dengan Membaca Nyaring
Keempat, pelatihan respons darurat melalui role-play atau permainan.
Latihan yang bisa dilakukan yakni menolak ajakan orang asing dengan suara keras. Selain itu, cara berlari ke tempat aman, misalnya ke toko terdekat, satpam, atau ibu dengan anak.
“Latihan melalui role play atau permainan ini membentuk perlindungan aktif, bukan perlindungan pasif yang hanya mengandalkan orang tua,” paparnya.
BACA JUGA: Pemerintah Ancam Platform Digital dan Penyelenggara Internet Terkait Judi Online
Kelima, menetapkan aturan keluarga yang konsisten. Dijelaskan, bagian penting dari pengasuhan sebagai perlindungan adalah aturan (family rules) yang jelas. Misalnya, tidak boleh pergi dengan orang lain tanpa izin.
“Seperti tidak boleh memberi tahu alamat rumah kepada orang asing. Selalu memberi informasi kepada orang tua tentang lokasi,” ujarnya.
Aturan yang konsisten diakuinya akan membantu anak membangun pemahaman tentang batasan dan keselamatan.
BACA JUGA: Tantangan Sepekan 1 Buku, Upaya Mengajak Anak Indonesia Gemar Membaca
Terakhir, memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu. Misalnya orang tua memasang GPS tracker, telepon sederhana untuk situasi darurat, dan orang tua-anak punya grup komunikasi.
“Namun teknologi hanya alat bantu, yang terpenting tetap relasi pengasuhan dan komunikasi,” tandasnya.