Siti Lestari
JAKARTA, Quarta.id- Potensi energi gelombang laut di Indonesia dinilai sangat besar dan dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).
Hal ini ditegaskan oleh Peneliti Pusat Riset Oseanologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Dendi Rochendi, dalam Seminar Hari Laut Sedunia 2026 bertema “Sustainable Marine Resources for Our Blue Planet” di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo BRIN, Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (9/6/2026), dikutip dari brin.go.id.
BACA JUGA: Inisiatif Sekolah Ekologis: Dorong Kesadaran Lingkungan Sejak Usia Dini
Dalam paparannya yang berjudul “Wave Energy Converter (WEC) sebagai Alternatif Strategis Pemenuhan Energi untuk Ketahanan Energi Nasional Indonesia“, Agus menjelaskan bahwa WEC merupakan perangkat yang mengonversi energi mekanik dari gelombang laut menjadi energi listrik dan bentuk energi lainnya sesuai kebutuhan.
Menurutnya, dibandingkan sumber energi laut lain seperti pasang surut, perbedaan suhu laut (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC), ataupun energi angin, gelombang laut memiliki keunggulan karena tersedia secara terus-menerus.
BACA JUGA: Mengenal Desa Energi Berdikari: Program Pertamina untuk Energi Ramah Lingkungan Berbasis Desa
“Gelombang laut selalu ada setiap saat dan setiap waktu. Periodenya berlangsung dalam hitungan detik, baik yang dibangkitkan oleh angin lokal maupun berupa gelombang panjang (swell). Meskipun energinya terkadang kecil, tugas kita sebagai insinyur adalah bagaimana mengekstrak potensi tersebut secara optimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara umum teknologi WEC terbagi menjadi tiga kategori utama. Pertama, Oscillating Water Column (OWC) yang memanfaatkan pergerakan udara akibat naik-turunnya gelombang laut untuk memutar turbin. Kedua, Overtopping System yang bekerja dengan memanfaatkan air laut yang melimpas ke dalam bak penampung sebelum dialirkan kembali untuk menggerakkan turbin.
BACA JUGA: Mengenal PLTMH, Alternatif Energi Listrik Ramah Lingkungan untuk Daerah Pelosok
Ketiga, Oscillating Body System yang memanfaatkan gerakan pelampung atau badan perangkat akibat dorongan gelombang untuk menghasilkan energi listrik melalui generator. Berbagai metode ini dinilai Agus sangat berpotensi menjadikan energi gelombang sebagai sumber energi terbarukan yang andal karena tersedia sepanjang waktu.
Menurut Agus, berbagai metode tersebut memungkinkan energi gelombang laut yang tersedia selama 24 jam dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan yang andal.
Berdasarkan berbagai hasil penelitian, Indonesia memiliki potensi energi gelombang laut yang tersebar hampir di seluruh wilayah perairan. Namun, wilayah dengan potensi terbesar berada di pantai barat Sumatra dan pantai selatan Jawa.
BACA JUGA: Warning! Industri Batu Bara Indonesia Terancam Imbas Korea Selatan Resmi Gabung PPCA
“Wilayah tersebut didominasi oleh gelombang panjang atau swell yang tersedia sepanjang tahun, sehingga sangat potensial untuk pengembangan teknologi pemanen energi gelombang laut,” jelasnya.
Tahapan Riset dan Tantangan Implementasi
Dalam mengembangkan teknologi WEC, tim peneliti BRIN menerapkan tahapan yang sistematis. Mulai dari pemodelan numerik kondisi laut, analisis parameter potensi energi, identifikasi lokasi optimal pemasangan perangkat, hingga perancangan desain dan pemilihan generator yang sesuai.
Agus menjelaskan bahwa pemodelan karakteristik gelombang dilakukan menggunakan perangkat lunak oseanografi untuk menghasilkan berbagai parameter penting, seperti daya gelombang, tingkat kestabilan kemunculan gelombang, identifikasi titik potensial, hingga analisis risiko bencana. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk menentukan lokasi terbaik sekaligus desain perangkat yang paling sesuai dengan karakteristik perairan.
Ia menambahkan, pengembangan teknologi WEC menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional. Berdasarkan Outlook Energi Indonesia, kebutuhan energi diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai 4.561 juta barel setara minyak (BOE) pada 2050. Namun, hingga saat ini pemanfaatan energi laut sebagai sumber EBT masih belum berjalan maksimal.
“Porsi energi laut dalam bauran energi nasional saat ini masih nol persen. Padahal regulasi dan kebijakan nasional sudah memberikan dukungan terhadap pengembangan energi laut sebagai bagian dari strategi transisi energi,” ungkapnya.
Menurut Agus, pengembangan energi gelombang laut telah didukung berbagai regulasi, termasuk Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2017 serta kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengembangan energi baru terbarukan.
Uji Coba Lapangan
Sebagai bagian dari riset yang sedang berlangsung, tim BRIN telah mengembangkan prototipe WEC dan melakukan uji coba lapangan di Bali dan Pangandaran. Meski hasil pengujian masih memerlukan penyempurnaan, penelitian terus dilanjutkan untuk meningkatkan kinerja perangkat pada kondisi gelombang yang lebih ekstrem.
“Saat ini kami sedang mengembangkan sistem kombinasi mekanis agar rentang operasional alat menjadi lebih panjang dan tetap mampu bekerja optimal pada kondisi gelombang di atas tiga meter,” kata Agus.
Ke depan, tim peneliti berencana melakukan pengujian laboratorium lanjutan guna menyempurnakan desain perangkat sebelum memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Melalui riset dan inovasi teknologi energi gelombang laut ini, BRIN berharap potensi besar yang dimiliki Indonesia sebagai negara maritim dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa mendatang.