Ahmad Riadi
JAKARTA, Quarta.id- Prinsip guna ulang disebut menjadi solusi ideal mengatasi krisis plastik yang saat ini menjadi pembicaraan global. Daur ulang yang kerap didengungkan sebagai alternatif, dinilai tidak cukup untuk mengatasi persoalan polusi sampah plastik.
Saat ini, hanya sekitar 9 persen sampah plastik yang benar-benar didaur ulang, sementara sebagian besar lainnya berakhir di tempat pembuangan akhir, fasilitas pembakaran, atau mencemari lingkungan.
Hal tersebut menjadi poin penting kesepakatan aliansi global yang terdiri dari pelaku usaha, pemerintah, desainer, dan organisasi masyarakat sipil meluncurkan simbol universal untuk mempercepat penerapan ekonomi berbasis guna ulang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
BACA JUGA: Asosiasi Guna Ulang Indonesia (AGUNI): Usung Solusi Guna Ulang Sebagai Norma Baru di Indonesia
Berlangsung di Washington DC, Selasa (3/62026) – Sebuah simbol global baru yang dirancang untuk menandai kemasan guna ulang dan sistem guna ulang di seluruh dunia resmi diluncurkan oleh PR3: The Global Alliance to Advance Reuse bersama koalisi internasional yang terdiri dari pelaku usaha, pemerintah, organisasi non-pemerintah, desainer, dan operator sistem guna ulang.
Peluncuran ini disebut menjadi tonggak penting dalam transisi dari budaya sekali pakai menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
Peluncuran simbol ini hadir di tengah meningkatnya tekanan global untuk mengatasi krisis plastik dan perubahan iklim, serta semakin kuatnya kesadaran bahwa daur ulang saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah yang terus membesar.
BACA JUGA: Peneliti dan Aktivis Lingkungan Ingatkan Potensi Bahaya Mikroplastik pada Jajanan Anak
Dari siaran pers yang diterima Quarta.id, Selasa (3/6/2026), sistem guna ulang, di mana kemasan dikembalikan, dikumpulkan, dicuci, dan digunakan kembali berkali-kali, semakin diakui sebagai salah satu solusi paling efektif untuk menggantikan kemasan sekali pakai.
“Jika diterapkan secara luas, sistem guna ulang dapat mengurangi produksi kemasan sekali pakai hingga 90 persen dan memangkas emisi hingga 80 persen. Dampak iklimnya bahkan setara dengan menghentikan seluruh industri penerbangan global,” tulis rilis tersebut.
Melalui Panel Standar Global PR3, inisiatif Rebrand Reuse diluncurkan pada tahun 2025 sebagai kompetisi desain global untuk menciptakan simbol universal bagi sistem dan kemasan guna ulang. Inisiatif ini menerima 236 karya dari 29 negara di seluruh dunia dan melalui proses seleksi yang melibatkan penilaian internasional, riset konsumen, serta evaluasi hukum.
Desain pemenang diciptakan oleh Nicole Ascanio Rodriguez dan Juan Navarrete, desainer sekaligus pendiri Epigrama Studios yang berbasis di Bogotá, Kolombia. Simbol tersebut dipilih melalui beberapa tahap penjurian, mulai dari pengujian pasar yang melibatkan 1.275 responden dari 17 negara, sampai dengan evaluasi berdasarkan kriteria seperti keunikan, kemudahan diingat, kemampuan mendorong tindakan, adaptasi lintas budaya, dan kemudahan dikenali.
Selain itu, simbol ini juga secara khusus diuji agar dapat dibedakan dengan jelas dari simbol daur ulang yang selama ini dikenal luas melalui bentuk panah melingkar (Möbius loop).
BACA JUGA: Terbukti Merusak Lingkungan, Industri Didorong Menanggung Biaya Akibat Polusi Puntung Rokok
“Kami ingin menciptakan simbol yang merepresentasikan pengembalian, kesinambungan, dan sirkulasi. Simbol ini dapat ditampilkan cukup sederhana untuk dipahami secara global, namun cukup bermakna untuk merepresentasikan hubungan baru antara manusia, material, dan sampah. Simbol ini memandang waktu bukan sebagai garis lurus, melainkan sebagai spiral: kembali, memulihkan, dan memulai kembali.” ujar Juan Navarrete, pendiri dan desainer Epigrama Studios.
Simbol tersebut kini mulai diterapkan pada berbagai jenis kemasan guna ulang dan infrastruktur pendukungnya, termasuk gelas minum, wadah makanan dan minuman, botol minuman, wadah produk pembersih rumah tangga, titik pengumpulan, kendaraan logistik, materi promosi, papan informasi, hingga sistem guna ulang skala kota.
BACA JUGA: Indonesia Perkuat Roadmap Pengurangan Sampah Melalui Strategi Guna Ulang oleh Produsen
Sejumlah organisasi yang telah mulai menerapkan atau sedang mengintegrasikan simbol ini berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia yang dalam hal ini diwakilkan oleh organiasi Dietplastik Indonesia. :
Amy Larkin, Pendiri dan Direktur PR3, mengatakan bahwa simbol guna ulang ini menjadi langkah yang nyata untuk beralih dari budaya konsumsi sekali pakai.
“Daur ulang tidak dapat menyelesaikan krisis kemasan dan sampah. Daur ulang tetap merupakan sistem sekali pakai karena kemasan harus diproduksi ulang. Dalam sistem guna ulang, satu kemasan dapat digunakan antara 10 hingga 100 kali sebelum akhirnya didaur ulang dan diproduksi kembali. Inilah jalan menuju dunia tanpa budaya membuang. Standar global PR3 dan simbol baru ini memberikan cara yang jelas bagi masyarakat untuk mengenali sekaligus mempercayai sistem guna ulang.” jelas Amy.
Penggunaan Simbol Secara Ketat
Berbeda dengan klaim umum mengenai kemasan yang dapat didaur ulang, penggunaan simbol ini hanya diperbolehkan pada kemasan dan infrastruktur yang memenuhi kriteria tertentu dalam PR3 Marking & Labeling Standard, yang akan segera diterbitkan oleh American National Standards Institute (ANSI).
Artinya, simbol ini hanya dapat digunakan pada sistem yang memiliki mekanisme pengumpulan, transportasi, penyortiran, pencucian, dan penggunaan kembali kemasan. Simbol tersebut juga dapat diterapkan pada titik pengembalian, fasilitas pencucian, platform digital, sistem pengembalian kemasan, dan berbagai infrastruktur lain yang mendukung sistem sirkular secara menyeluruh.
Di Indonesia, sistem guna ulang unggul dengan tradisi yang sudah melekat budaya yang ada. Untuk memperkuat perilaku masyarakat yang berkembang sesuai zaman, kebijakan pemerintah pun didorong agar ekosistem guna ulang benar-benar terintegrasi.
“Peluncuran simbol guna ulang global ini hadir pada momentum yang tepat bagi Indonesia. Saat ini pemerintah Indonesia sedang memperkuat kebijakan sistem guna ulang dan mewajibkan produsen membangun sistem tersebut,” ujar Tiza Mafira selaku Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia.
Dietplastik Indonesia merupakan bagian Panel Standar Global PR3 dan kami sangat bersemangat untuk menyebarluaskan simbol guna ulang di Indonesia.
Simbol ini bukan sekadar logo, ini adalah infrastruktur komunikasi yang memungkinkan sistem guna ulang berjalan dalam praktik sehari-hari. Mulai dari membantu konsumen mengetahui kemasan mana yang harus dikembalikan, membantu produsen mengelola pengembaliannya, dan membantu pemerintah membangun standar yang seragam.” imbuh Tiza Mafira