Akadamisi UGM Ini Ungkap Sejumlah Problem pada Upaya Pemenuhan Gizi Masyarakat Indonesia

Ahmad Riadi
Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD. (Foto: ugm.ac.id)
Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD. (Foto: ugm.ac.id)

JAKARTA, Quarta.id- Indonesia masih diperhadapkan pada sejumlah persoalan yang terkait dengan upaya pemenuhan gizi masyarakat.

Laman Universitas Gadjah Mada ugm.ac.id menyebut, pemenuhan gizi masyarakat Indonesia, tidak melulu dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

Sebagian besar masyarakat Indonesia disebut sebenarnya mampu mengakses pola makan sehat sesuai pedoman gizi. Namun, realitas konsumsi sehari-hari justru memperlihatkan kecenderungan berbeda,

BACA JUGA: Hari Gizi Nasional dan Ancaman Obesitas pada Anak Indonesia

Pilihan makanan bergeser ke arah yang kurang seimbang. Kini, pola makan masyarakat lebih banyak diwarnai oleh konsumsi makanan olahan, tinggi gula, garam, dan lemak.

Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD, pemilihan makanan pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi dalam kehidupan individu.

Ia menjelaskan bahwa faktor internal seperti kondisi fisiologis, preferensi rasa, hingga kebiasaan memiliki peran penting dalam menentukan pilihan makanan.

BACA JUGA: 1 dari 5 Anak Alami Obesitas, Jangan Biarkan Putra-Putri Anda Malas Gerak

“Selain itu, faktor eksternal seperti ketersediaan pangan, interaksi sosial, serta budaya juga turut membentuk pola konsumsi seseorang. Dalam konteks saat ini, kemudahan akses terhadap berbagai jenis makanan membuat pilihan menjadi semakin beragam,” ucapnya, dari publikasi ugm.ac.id, .Senin (20/4/2026).

Ia menuturkan bahwa dalam masyarakat modern, faktor preferensi, kebiasaan makan, dan gaya hidup justru cenderung lebih dominan dibandingkan faktor ekonomi.

Kebiasaan makan yang terbentuk sejak kecil akan terus terbawa hingga dewasa dan memengaruhi preferensi individu dalam memilih makanan. Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama seseorang mengenal pola makan, termasuk jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

BACA JUGA: Yuk, Kenal Lebih Dekat dengan Dietisien! Profesi Bidang Gizi yang Jadi Peluang untuk Gen Z

Menurut Dini, ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak sejak dini, kebiasaan tersebut akan sulit diubah di kemudian hari.

Gaya hidup yang serba praktis juga turut mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Banyak individu lebih memilih membeli makanan jadi atau jajan dibandingkan memasak sendiri di rumah.

Pilihan makanan yang tersedia di luar rumah umumnya didominasi oleh makanan yang digoreng, tinggi gula, serta rendah serat. Hal ini membuat konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah semakin terpinggirkan dalam menu harian. “Kebiasaan hidup yang praktis menjadikan opsi membeli makanan jadi lebih banyak dilakukan, sementara pilihan yang tersedia sering kali kurang sehat,” ungkap Dini.

BACA JUGA: Dukung Visi Ketahanan Pangan Nasional, ITB Hadirkan Dua Alat Inovasi Teknologi Pascapanen

Rendahnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan juga menjadi sorotan penting dalam persoalan gizi masyarakat.

Dini menjelaskan bahwa kebiasaan ini sering kali berakar dari pola makan yang tidak dibiasakan sejak masa kanak-kanak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan konsumsi sayur dan buah yang minim cenderung tidak menyukai makanan tersebut saat dewasa.

Selain itu, kurangnya pengetahuan mengenai manfaat pangan bergizi turut memengaruhi keputusan konsumsi. “Pemahaman yang kurang mengenai pentingnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan membuat pilihan makanan menjadi tidak optimal,” imbuhnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08