Masjid Tua Gantarang Lalang Bata dan Sejarah Masuknya Islam di Kepulauan Selayar

Ahmad Riyadi
Mesjid Tua Gantarang Lalangbata di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Mesjid yang berdiri pada abad ke-16 ini merupakan salah satu mesjid tertua di Sulsel. (Foto: Disparbud Kepulauan Selayar)
Mesjid Tua Gantarang Lalangbata di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Mesjid yang berdiri pada abad ke-16 ini merupakan salah satu mesjid tertua di Sulsel. (Foto: Disparbud Kepulauan Selayar)

SELAYAR, Quarta.id- Di Sulawesi Selatan ada dua masjid yang disebut sebagai masjid tertua. Selain di Katangka, Kabupaten Gowa, ada satu masjid tua di Kepulauan Selayar.

Dikutip dari website resmi Dinas Pariwsata dan Kebudayaan Kepulauan Selayar, pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id, Masjid Tua Gantarang Lalang Bata menjadi bukti sejarah masuknya agama islam di Kepulauan Selayar.

Laman yang sama menyebut, tokoh penyebarluasan agama islam di Sulawesi Selatan, Datu Ribandang yang awalnya menyebarluaskan ajaran Islam di Maluku dan Buton, kemudian bermaksud berlayar menuju Gowa di Sulawesi Selatan, usai mengislamkan raja Maluku dan Buton.

BACA JUGA: Menyusuri Eksotisme Pantai Pinang di Kepulauan Selayar

Dalam perjalanannya menuju Kabupaten Gowa, Datu Ribandang disebut singgah terlebih dahulu di Pulau Selayar pada tahun 1965.

Di Selayar, Datu Ribandang mengajarkan agama islam sekaligus mendirikan masjid yang saat ini berada dalam wilayah Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai.

Sultan Pangali Patta Radja (Sultan Alauddin) disebut sebagai raja pertama yang memeluk agama Islam di Bumi Tanadoang, julukan Kepulauan Selayar.

BACA JUGA: Berulang Tahun ke-32, Ini Sejarah Taman Nasional Taka Bonerate: Salah Satu Cagar Biosfer Dunia dan Surganya Para Divers

Kekhasan dari Masjid Tua Lalang Bata terlihat dari konstruksi menyerupai hewan katak, dengan ornamen menyerupai mustika di bagian puncak atapnya.

Saat Quarta.id menyambangi tempat ini tahun 2023 lalu, terlihat didalam ruangan mesjid ini, benda-benda peninggalan sejarah yang disimpan oleh penduduk setempat di dalam masjid secara turun temurun.

Benda-benda tersebut diantaranya tongkat menyerupai pedang, mimbar lengkap dengan bendera kain putih di sisi kiri-kanannya yang terdapat tulisan bahasa Arab.

BACA JUGA: Yuk, Nikmati Keindahan Karang Atol Terbesar Ketiga di Dunia Pada Festival Takabonerate 2023

Ada pula naskah bertuliskan bahasa arab yang hingga kini masih kerap dibacakan sebagai khutbah pada momen tertentu.

Masjid Tua Gantarang Lalang Bata, oleh penduduk setempat masih digunakan untuk sholat berjamaah, sholat Jumat, termasuk sholat Idulfitri dan Iduladha.

Dari Kota Benteng, Kepulauan Selayar, lokasi ini bisa diakses dengan perjalanan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat, dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *