Peliknya Masalah Sampah di Indonesia, Belantara Foundation: Perlu Strategi Terpadu

Bakti M. Munir
Membawa tas belanja sendiri saat berbelanja salah satu cara efektif mengurangi produksi sampah plastik. (Foto: Dok. Belantara Foundation)
Membawa tas belanja sendiri saat berbelanja salah satu cara efektif mengurangi produksi sampah plastik. (Foto: Dok. Belantara Foundation)

JAKARTA, Quarta.id- Pengelolaan sampah nasional yang belum berjalan optimal terus menjadi sorotan publik. Pemerintah pun terus berupaya mencari solusi agar dampak buruk dari sampah bisa lebih terkendali.

BACA JUGA: Keren! Gerakan Literasea di Kabupaten Bone Ini Gelar Cleanup di Sungai Bulu, Angkat 70 Kg Sampah Plastik

Isu mengenai sampah semakin bergema pekan-pekan terakhir ini karena Indonesia kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari lalu. Momentum tersebut merupakan pengingat tragedi longsor sampah di Tempat Pemrosesan Akhir TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 dan menewaskan lebih 150 orang.

BACA JUGA: Ramadan dan Food Waste yang Makin Memprihatinkan

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, timbulan sampah nasional di Indonesia sebanyak 24,8 juta ton per tahun. Capaian pengelolaan sampah nasional pada 2025 adalah 34,55 persen atau 8,5 juta ton terkelola dengan baik dan sebesar 65,45 persen atau 16,3 juta ton tidak terkelola.

Selain itu, sampah yang masuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sanitary landfill atau controlled landfill sebanyak 36,24% sedangkan 63,76 persen diantaranya masih menerapkan open dumping (penimbunan terbuka).

BACA JUGA: Sampah Organik dilarang Masuk TPA Sarimukti, Akademisi ITB Sampaikan ini!

Penyumbang sampah terbesar di Indonesia dengan persentase mencapai 56,7% atau 7,2 juta ton/tahun adalah sektor rumah tangga. Sumber lain meliputi perniagaan menyumbang 7,58% atau 972,2 ribu ton per tahun, pasar sebesar 1,7 juta ton per tahun, sementara fasilitas publik sebesar 7,03% atau 899,7 ribu ton per tahun dan kawasan sebesar 4,68% atau 598,6 ribu ton per tahun.

BACA JUGA: Sarimukti dan Akhir Cerita TPA Open Dumping: Kemana Sampah Kita Akan Dibawa?

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan dibutuhkan strategi terpadu dalam pengelolaan sampah untuk mendukung mitigasi perubahan iklim dan  meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kombinasi strategi yang perlu dijalankan mencakup reformasi kebijakan, inovasi teknologi, kampanye kesadaran dan edukasi publik serta partisipasi aktif dari masyarakat luas,” ujarnya  melalui keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).

BACA JUGA: Terbukti Merusak Lingkungan, Industri Didorong Menanggung Biaya Akibat Polusi Puntung Rokok

Reformasi kebijakan diakuinya menjadi fondasi utama dengan menghadirkan regulasi yang tegas, insentif bagi praktik ramah lingkungan, serta sistem pengawasan yang konsisten agar pengelolaan sampah berjalan secara efektif.

Di sisi lain, lanjutnya, inovasi teknologi seperti pengolahan sampah berbasis daur ulang, pemanfaatan limbah menjadi energi, dan digitalisasi sistem pengumpulan sampah dapat meningkatkan efisiensi serta mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

BACA JUGA: Indonesia Perkuat Roadmap Pengurangan Sampah Melalui Strategi Guna Ulang oleh Produsen

Kampanye kesadaran dan edukasi publik disebutnya berperan penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.

Seluruh upaya tersebut akan berjalan optimal apabila didukung oleh partisipasi aktif masyarakat, baik dalam skala rumah tangga, komunitas, maupun sektor industri, sehingga tercipta kolaborasi yang kuat menuju sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

BACA JUGA: Mengenal Dioksin, Zat Beracun Penyebab Kanker yang Dihasilkan Saat Bakar Sampah

“Ketika masyarakat diberdayakan untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan tetapi juga membuka peluang ekonomi, yang mengarah pada masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Dolly.

Dolly menegaskan pengelolaan sampah berkelanjutan bukan sekadar kewajiban lingkungan, tetapi juga merupakan langkah strategis menuju masa depan yang tangguh dan rendah karbon yang dapat menguntungkan semua pihak baik di tingkat lokal maupun global.

BACA JUGA: Hari Peduli Sampah Nasional dan Praktik Pertambangan Berkelanjutan ala PT Vale Indonesia

Dia berharap peringatan HPSN 2026 dapat menjadi momentum penting untuk bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan menerapkan solusi inovatif dalam membangun ekonomi sirkular, untuk merawat Bumi kita, serta sekaligus membantu membuka peluang untuk kesejahteraan masyarakat.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08