Kebakaran Kembali Terulang, AZWI Pertanyakan Komitmen Transformasi Pengelolaan TPA

Ahmad Riadi
Kebakaran di TPA Putri Cempo (Dok. Walhi Jateng)
Kebakaran di TPA Putri Cempo (Dok. Walhi Jateng)

JAKARTA, Quarta.id- Kebakaran akibat tumpukan gas metana kembali terjadi di TPA Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu (02/09/2026) malam. Hingga Kamis (04/09/2026).

BNPB mencatat sekitar 75 orang lansia dan balita warga Jatirejo diungsikan ke Kelurahan Mojosongo untuk menghindari asap serta mendapatkan perawatan. Kebakaran ini menjadi kejadian kedua di TPA Putri Cempo sepanjang 2026, setelah sebelumnya kebakaran terjadi pada Juni 2026, sebagaimana dikutip dari laman Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) aliansizerowaste.id.

Dikutip dari sumber yang sama. kebakaran di Putri Cempo menambah panjang daftar TPA dan eks-TPA yang terbakar di berbagai daerah sepanjang 2026. Sedikitnya 15 lokasi telah dilaporkan mengalami kebakaran.

BACA JUGA: Presiden Baru dan “Bom Waktu” Bernama TPA

Fakta tersebut, menurut AZWI, menjadi bukti bahwa AZWI respons pemerintah terhadap kebakaran TPA selama ini masih bersifat reaktif dan tidak menyentuh substansi persoalan.

“Memadamkan api, menangani kondisi darurat, lalu kembali ke pola pengelolaan yang sama. Padahal, kebakaran TPA adalah gejala dari persoalan struktural: sampah masih ditumpuk di hilir, pemilahan di sumber belum berjalan, sampah organik masih masuk TPA, dan pemerintah masih memprioritaskan pendekatan hilir seperti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan Refuse-Derived Fuel (RDF),” tulis laman AZWI pada Jumat (4/9/2026).

Muharram Atha Rasyadi selaku Ketua Tim Kampanye Sosial & Ekonomi Greenpeace Indonesia menyebut, Dalam 3 tahun terakhir, banyak kasus TPA kebakaran di Indonesia. Tidak adanya perbaikan tata kelola secara sistematis hanya mengulangi kesalahan yang sama.

BACA JUGA: Jelang Batas Akhir Penutupan TPA Open Dumping, KLH Beri Warning pada Pemerintah Daerah

“Sudah seharusnya Pemerintah hadir untuk memperbaikinya dengan memprioritaskan pemilahan agar sampah organik tidak masuk ke TPA. Tata kelola yang salah dan keliru hanya terus menimbulkan korban jiwa serta dampak kesehatan bagi warga,” ujarnya.

Di sisi lain AZWI menilai, pola reaktif ini juga membuat biaya pengelolaan sampah semakin tidak efisien. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sampah, mulai dari pengurangan, pemilahan, pengolahan organik, hingga perbaikan operasional TPA, justru tersedot untuk biaya pemadaman api yang tinggi. 

Dalam beberapa kasus, pemadaman bahkan membutuhkan pengerahan sumber daya besar seperti waterbombing dengan helikopter, sementara akar masalah tata kelola sampah tetap tidak terselesaikan.

BACA JUGA: Sarimukti dan Akhir Cerita TPA Open Dumping: Kemana Sampah Kita Akan Dibawa?

“Kebakaran seperti ini yang terdampak adalah warga sekitar, apalagi mayoritasnya pemulung. Sudah susah mencari mata pencaharian, sekarang ditambah dampak kebakaran ini. Pemulung dan warga sekitar TPA tidak boleh terus diperlakukan sebagai pihak yang menanggung risiko dari sistem yang gagal. Ketika TPA terbakar, mereka kehilangan ruang hidup, sumber penghidupan, dan keselamatan. Pemerintah harus memastikan perlindungan bagi kelompok terdampak,” papar Deputi Direktur Walhi Jawa Tengah, Nur Colis.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLH menunjukkan bahwa 40,61% timbulan sampah nasional merupakan sisa makanan.

Ketika sampah organik dibuang ke TPA tanpa dipilah dan diolah, proses pembusukan secara anaerob menghasilkan gas metana (CH₄), yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan dengan karbon dioksida.

BACA JUGA: Kebakaran di TPA Marak Terjadi, Dosen dan Peneliti Institut Teknologi Bandung Ingatkan ini!

AZWI menyebut, selain memperparah krisis iklim, akumulasi metana juga meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan ketika bertemu sumber panas, yang semakin diperparah oleh keberadaan plastik sekali pakai dan styrofoam sebagai bahan bakar tambahan.

Hal ini diperkuat oleh Project MERIT (Methane Emissions Reduction Initiative Through Innovative Technologies), yang melalui pengukuran langsung di TPPAS Sarimukti, TPST Bantargebang, dan TPA Suwung menemukan bahwa TPA merupakan salah satu sumber emisi metana terbesar dari sektor limbah di Indonesia.

Temuan tersebut menurut AZWI, menegaskan bahwa pengurangan sampah organik sejak sumbernya merupakan langkah paling efektif untuk menekan emisi metana sekaligus mencegah kebakaran di TPA.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *