Ahmad Riadi
PANGKEP, Quarta.id – Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Tim Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan gelar pelatihan desain modul pembelajaran kimia berbasis Education for Sustainable Development (ESD) dengan pendekatan Project-Based Learning (PjBL) bagi guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia Kabupaten Pangkep.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 25 April 2026 tersebut diikuti oleh 18 guru kimia. Tim pelaksana terdiri atas Munawwarah, S.Pd., M.Pd., Muhammad Anwar, dan Netti Herawati dari Universitas Negeri Makassar.
Pelatihan ini dilaksanakan sebagai upaya memperkuat kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran kimia yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga mampu menghubungkan materi dengan persoalan nyata di lingkungan dan masyarakat.
Dalam pembelajaran kimia, berbagai topik memiliki keterkaitan langsung dengan isu keberlanjutan. Pencemaran lingkungan, pengelolaan limbah, penggunaan bahan kimia ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya, hingga pengembangan produk sederhana dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran. Karena itu, integrasi ESD menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu peserta didik memahami hubungan antara ilmu kimia dan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya memperoleh materi tentang konsep ESD dan PjBL. Peserta juga terlibat langsung dalam praktik penyusunan modul pembelajaran. Guru diarahkan untuk memilih topik kimia, mengidentifikasi isu keberlanjutan yang relevan, menentukan tujuan pembelajaran, merumuskan pertanyaan pemantik, merancang aktivitas proyek, menyusun lembar kerja, serta menentukan bentuk asesmen yang sesuai.
BACA JUGA: Memotret Aktivitas Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, Layani Masyarakat di Kepulauan Sumenep
Pendekatan berbasis proyek dipilih agar pembelajaran kimia dapat memberikan ruang yang lebih luas kepada peserta didik untuk melakukan penyelidikan, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan menghasilkan produk yang berkaitan dengan lingkungan sekitar.
Proses pelatihan dilaksanakan secara bertahap. Kegiatan dimulai dengan penguatan konsep ESD dan PjBL, kemudian dilanjutkan dengan praktik penyusunan modul, pendampingan, diskusi produk, presentasi rancangan, pemberian umpan balik, dan evaluasi.
Selama kegiatan berlangsung, para guru menunjukkan keterlibatan aktif dalam diskusi dan penyusunan ide proyek. Peserta juga menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temui dalam pembelajaran kimia di sekolah. Diskusi tersebut kemudian digunakan untuk merancang aktivitas pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan peserta didik.
Salah satu perhatian peserta adalah pentingnya modul yang menggunakan bahasa sederhana, menyajikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan memuat kegiatan proyek yang dapat dilakukan dengan alat serta bahan yang tersedia di lingkungan sekolah.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mulai mampu mengidentifikasi hubungan antara materi kimia dengan berbagai isu keberlanjutan. Guru juga memperoleh pengalaman dalam menyusun struktur awal modul yang memuat tujuan pembelajaran, pertanyaan pemantik, kegiatan proyek, lembar kerja, hingga asesmen.
Kebutuhan terhadap pengembangan bahan ajar tersebut juga diperkuat oleh hasil evaluasi kegiatan. Berdasarkan angket yang diisi oleh peserta dari sudut pandang guru, kebutuhan pengembangan modul pembelajaran kimia berbasis ESD-PjBL memperoleh rerata skor 3,62 dengan persentase 90,42 persen dan termasuk dalam kategori sangat tinggi.
BACA JUGA: Keren! Mahasiswa ITB Ciptakan Inovasi untuk Minimalkan Lakalantas Akibat Sopir Mengantuk
Beberapa kebutuhan bahkan memperoleh persentase 100 persen, khususnya kebutuhan bahan ajar yang dapat membantu peserta didik memahami konsep kimia serta kebutuhan penggunaan bahasa modul yang sederhana dan jelas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa guru memandang pembelajaran kimia membutuhkan bahan ajar yang lebih kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Modul juga diharapkan tidak hanya menyampaikan materi, tetapi mampu mengarahkan peserta didik dari suatu permasalahan menuju aktivitas proyek, penyelidikan sederhana, latihan, dan refleksi.
Melalui program pengabdian ini, tim UNM berharap guru dapat terus menyempurnakan rancangan modul yang telah dihasilkan dan mengadaptasinya sesuai karakteristik peserta didik serta kondisi sekolah masing-masing.

Kegiatan ini juga membuka peluang untuk program pendampingan berikutnya, khususnya pada tahap implementasi modul di kelas. Evaluasi lebih lanjut dapat dilakukan untuk melihat efektivitas modul dalam mendukung pemahaman kimia sekaligus membangun kesadaran peserta didik terhadap isu keberlanjutan.
Program pengabdian kepada masyarakat ini mendapat dukungan pendanaan melalui PNBP Universitas Negeri Makassar. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP Kimia Kabupaten Pangkep diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kompetensi guru serta peningkatan kualitas pembelajaran kimia di sekolah.