BRIN dan Universitas Asal Australia Sorot Dampak Proyek Kereta Trans-Sulawesi bagi Masyarakat Lokal

Al-Qadri Ramadhan
Kereta Api jurusan Makassar-Parepare berhenti di stasiun antara Maros-Barru, 24 Februari 2023. Kereta api ini termasuk salah satu Proyek Strategis Nasional. (Foto: djkn.kemenkeu.go.id)
Kereta Api jurusan Makassar-Parepare berhenti di stasiun antara Maros-Barru, 24 Februari 2023. Kereta api ini termasuk salah satu Proyek Strategis Nasional. (Foto: djkn.kemenkeu.go.id)

JAKARTA, Quarta.id– Pembangunan infrastruktur kereta api di Sulawesi Selatan akan menciptakan konektivitas yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Konektivitas tersebut lantas dapat meningkatkan perdagangan, menghubungkan berbagai infrastruktur kunci lainnya seperti pelabuhan, terciptanya arus tenaga kerja, menghubungkan komunitas, serta secara fundamental dapat mempromosikan pembangunan regional yang didorong oleh nasional.

Namun, proyek kereta api trans-Sulawesi tersebut juga memiliki dampak negatif pada lingkungan  dan masyarakat wilayah yang dilintasi rel kereta.

Karena itu perlu mitigasi untuk meminimalkan potensi kerugian sosial ekonomi dan lingkungan sebagai akibat dari  keberadaan pembangunan yang jadi bagian Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.

BACA JUGA: Viral Video Kereta Cepat Whoosh Bocor dan Kemasukan Air Hujan, Ini Tanggapan KCIC

Associate Professor School of Social Sciences University of Western Australia (UWA), Kirsten Martinus mengatakan, ia bersama tim peneliti UWA dan dari Universitas Hasanuddin yang meneliti proyek rel kereta api tersebut telah membagi dampak sosial-ekonomi menjadi dua, yaitu sisi positif dan negatif.

Dalam jangka pendek, sisi positifnya adalah terjadi peningkatan pendapatan masyarakat berkat pekerjaan konstruksi dan penggunaan material lokal. Sedangkan dampak jangka panjang dapat menciptakan konektivitas.

BACA JUGA: 3,1 Juta Orang Gunakan Kereta Api Jarak Jauh Selama Periode Mudik Lebaran 2024

“Namun sisi negatifnya, pembangunan tersebut dapat menciptakan zona rawan banjir akibat perubahan aliran air. Ekstrasi tanah yang berlebihan juga menciptakan degradasi lingkungan,” ujarnya dalam diskusi daring yang diselenggarakan Pusat Riset dan Kependudukan (PRK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama UWA yang mengangkat isu dampak sosial-ekonomi pembangunan jalur kereta api dengan mengambil sampel jalur trans-Sulawesi, Selasa (30/4/2024.

BACA JUGA: Gempa Garut 6,5 SR Terasa hingga Jakarta, Perjalanan Kereta dan Commuter Line Sempat Terhenti

Dikutip dari laman brin.go.id,  Kirsten menyebut, atas proyek kereta tersebut, pada masyarakat kelas ekonomi rendah terdapat hambatan dalam transisi untuk mendapatkan pekerjaan.

Dalam memitigasi hal tersebut, ia berharap berbagai pihak dapat mengupayakan transisi ke arah yang lebih diversifikasi. Juga, kondisi tersebut mampu menciptakan kesempatan ekonomi yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat.

Menurutnya, dengan perencanaan dan strategi yang baik dapat mengurangi dampak negatif pembangunan kereta api terhadap lingkungan dan masyarakat.

BACA JUGA: MRT Jakarta 5 Tahun Beroperasi, Total Angkut 102 Juta Penumpang, Rata-rata 91.000 Orang Per Hari

Peneliti PRK BRIN, Galuh Indraprahasta mengatakan semua infrastruktur dan investasi akan menuju pertumbuhan karena membangun sesuatu akan berkontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) melalui pembentukan modal tetap.

“Namun pertanyaannya, bagaimana infrastruktur yang dibangun bisa melayani kepentingan masyarakat secara luas?” katanya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *