Bakti M. Munir
JAKARTA, Quarta.id– Ormas Islam Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat (20/3/2026). Jutaan umat Muhammadiyah di Tanah Air pun serempak melaksanakan salat Idulfitri hari ini.
Berbeda dengan pemerintah Indonesia, 1 Syawal ditetapkan jatuh pada Sabtu (21/3/2026) berdasarkan hasil sidang isbat Kementerian Agama yang digelar Kamis (19/3/2026).
Bagi Muhammadiyah, jatuhnya 1 Ramadan dan 1 Syawal sudah ditetapkan jauh-jauh hari karena menggunakan metode hisab. Ini merupakan metode ilmiah berupa perhitungan astronomis dan matematis dalam memprediksi posisi bulan.
BACA JUGA: Berat Badan Rawan Naik Usai Libur Lebaran, Waspada Pemicunya
Muhammadiyah mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sehingga tidak perlu lagi melakukan pengamatn langsung hilal (metode rukyat).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa KHGT adalah keniscayaan bagi umat Islam di tengah arus globalisasi.
Dia mengilustrasikan globalisasi sebagai “kereta raksasa” yang dapat menggilas siapa saja yang tidak siap, namun menjadi kendaraan penting bagi mereka yang mampu menghadapinya.
“Oleh karena itu, di era globalisasi yang menghapus sekat administratif, kehadiran kalender hijriah global menjadi mutlak untuk menyatukan umat Islam dengan satu tanggal dan satu hari di seluruh dunia,” ujar Haedar dilansir laman muhammadiyah.or.id.
BACA JUGA: Mudah Dilakukan, Ini Aktivitas Fisik untuk Turunkan Berat Badan Pasca Lebaran
Dalam perspektif universum, kata dia, Islam disebut sebagai agama kosmopolit yang mengandung nilai-nilai universal, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (QS. Al-Anbiya: 107), yang menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam dengan nilai-nilai rahmat.
Haedar menyoroti sejarah Islam yang telah menunjukkan sifat globalnya sejak dulu. Islam menyebar dari Jazirah Arab hingga ke Magribi, Eropa (Andalusia, Balkan), Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara, meskipun dengan keterbatasan transportasi pada masa itu.
“Ini bukti nyata bahwa Islam telah mengglobal sejak awal, sebagai wujud rahmatan lil alamin,” ujarnya.
BACA JUGA: Euforia Libur Lebaran, Kontrol Konsumsi Makanan Berlemak, Jangan Berlebih!
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia, sebagaimana diwujudkan dalam dokumen resmi Pancasila dan Darul Ahdi Wasyahadah. Namun, untuk kepentingan universal, kalender global ini dianggap sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari.
“Kita tidak lagi bisa hanya berbasis kalender lokal, kecuali untuk keperluan tertentu. Kalender global adalah jihad akbar dan ijtihad umat Islam menghadapi perkembangan global,” tegas Haedar.
Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka untuk dialog dan musyawarah demi mencapai mufakat. “Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” ujarnya.
BACA JUGA: Muhammadiyah Resmi Terima Tawaran Pemerintah Kelola Pertambangan
Haedar menekankan bahwa perubahan metode tidak perlu ditakuti, karena metode hanyalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah sendiri pernah beralih dari rukyat ke hisab hakiki, menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan.
Ia juga merujuk pada konsep falsifikasi dalam ilmu pengetahuan Barat, yang membuka peluang untuk menguji dan memperbarui teori. “Jika kalender global ini dikritik, kami terbuka. Bahkan ijtihad yang salah pun mendapat pahala,” ujarnya, mengutip prinsip bahwa ijtihad adalah kunci peradaban Islam.
Haedar berharap kalender ini tidak hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi milik umat Islam secara keseluruhan. “Hilangkan nama Muhammadiyah jika perlu, yang penting kita bersatu untuk satu kalender global,” katanya.
BACA JUGA: Peliknya Masalah Sampah di Indonesia, Belantara Foundation: Perlu Strategi Terpadu
Ia juga menyoroti kebutuhan generasi milenial dan Gen Z akan kepastian kalender, serupa dengan kalender Masehi yang telah mapan, seperti perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember di seluruh dunia.
Meski tantangan masih besar, Haedar optimistis bahwa dengan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kalender hijriah global tunggal dapat terwujud.
“Jika tidak sekarang, mungkin 25, 50, atau 100 tahun ke depan. Tapi jangan terlalu lama, karena generasi muda menanti,” pungkasnya.