Kabar Baik! BRIN Kembangkan Teknologi AI Berbasis Bahasa Daerah

Al-Qadri Ramadhan
Ilustrasi teknologi AI. (Foto: unsplash.com/Steve A Johnson)
Ilustrasi teknologi AI. (Foto: unsplash.com/Steve A Johnson)

BANDUNG, Quarta.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat riset kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung pelestarian bahasa daerah di Indonesia.

Melalui riset di bidang Natural Language Processing (NLP), BRIN mengembangkan teknologi yang mampu memahami, mengolah, hingga menerjemahkan berbagai bahasa daerah sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan budaya sekaligus memperluas pemanfaatannya dalam layanan digital.

BACA JUGA: Kemkomdigi dan JICA Siapkan Talenta AI untuk Lindungi Anak dan Perangi Disinformasi

Hal tersebut disampaikan Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Yuyun, saat menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Sangga Buana YPKP Bandung di BRIN Bandung, pada Kamis (2/7/2026), dikutip dari brin.go.id.

Menurut Yuyun, penelitian yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Riset yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada hasil secara teoritis, tetapi juga bagaimana hasil tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA: BRIN Uji Coba Pemanfaatan Gelombang Laut jadi Energi

Ia menjelaskan bahwa bahasa daerah merupakan aset budaya yang memiliki nilai strategis sekaligus potensi besar dalam pengembangan AI yang lebih inklusif. Selama dua hingga tiga tahun terakhir, tim peneliti BRIN mengembangkan model AI yang mampu mengolah berbagai bahasa daerah untuk mendukung aplikasi penerjemahan otomatis, pengenalan suara, hingga sistem interaksi berbasis bahasa.

Namun, pengembangan teknologi tersebut menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan data digital. Sebagian besar bahasa daerah di Indonesia belum memiliki korpus digital yang memadai sehingga menyulitkan proses pelatihan model AI.

BACA JUGA: (OPINI) Multibahasa Sejak Dini: Menjawab Tantangan, Bukan Sekadar Tren

“Sebagian besar bahasa daerah belum memiliki korpus digital yang memadai. Banyak yang hanya terdokumentasi dalam bentuk kamus dengan jumlah kosakata yang sangat terbatas, padahal pengembangan sistem AI membutuhkan data dalam jumlah besar,” jelasnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, BRIN menerapkan pendekatan low-resource, yakni metode pengembangan teknologi bahasa dengan memanfaatkan data yang terbatas. Pendekatan ini dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin bersama ahli bahasa, antropolog, sosiolog, dan peneliti sistem informasi.

BACA JUGA: Elektronifikasi di Kepulauan Selayar dan Potret Digitalisasi Keuangan pada Daerah 3T

Selain keterbatasan data, Yuyun juga menyoroti semakin menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda. Kondisi ini menyebabkan semakin sedikit data autentik yang tersedia untuk mendukung pengembangan teknologi berbasis bahasa daerah.

Sebagai solusi, Yuyun bersama tim peneliti BRIN membangun korpus bahasa daerah dengan menghimpun berbagai sumber, mulai dari kamus, majalah lokal, buku cerita rakyat, hingga dokumen cetak dan PDF. Seluruh data tersebut kemudian didigitalisasi, diekstraksi, dan dibersihkan sebelum digunakan sebagai bahan pelatihan AI.

Tak hanya itu, menurutnya, tim peneliti juga melakukan pengumpulan data langsung ke berbagai daerah. Salah satu kegiatan yang sedang berlangsung adalah dokumentasi sekitar 13 bahasa daerah di Sulawesi melalui proses identifikasi, pemetaan karakteristik, dan pendokumentasian bahasa.

Dalam pengembangan sistem penerjemahan, BRIN memanfaatkan model bahasa yang telah dilatih menggunakan berbagai bahasa dunia, kemudian melakukan fine-tuning agar model tersebut mampu memahami karakteristik bahasa daerah di Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan teknologi dilakukan lebih efisien dibandingkan membangun model dari awal.

“Data yang telah dikumpulkan kemudian disusun menjadi korpus paralel antara bahasa daerah dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris sebagai dasar pelatihan model,” terang Yuyun.

Teknologi yang dikembangkan BRIN juga mampu mengolah video maupun audio menjadi teks, mengenali bahasa yang digunakan, menerjemahkannya ke bahasa perantara bila diperlukan, kemudian menghasilkan terjemahan ke bahasa tujuan, termasuk berbagai bahasa daerah di Indonesia.

Melalui inovasi tersebut, dirinya berharap bahasa daerah tidak hanya tetap lestari sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem teknologi modern yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai layanan digital di masa depan.

Menutup paparannya, Yuyun menyampaikan bahwa materi yang diberikan kepada mahasiswa dirancang agar tidak hanya memperkenalkan konsep, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai implementasi riset AI di lapangan.

“Kami mencoba menyiapkan materi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga memberikan gambaran implementasi di lapangan,” pungkasnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08