Hari Epilepsi Sedunia, Mengenal Lebih Jauh Epilepsi pada Anak

Siti Lestari
Ilustrasi kejang pada anak sebagai salah satu gejala epilepsi. (Foto: Unsplash.com/Flavia Gava)
Ilustrasi kejang pada anak sebagai salah satu gejala epilepsi. (Foto: Unsplash.com/Flavia Gava)

JAKARTA, Quarta.id- Tanggal 26 Maret setiap tahunnya, diperingati sebagai Hari Epilepsi Sedunia. Secara umum, momen peringatan ini ditujukan sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat dunia terkait epilepsi.

Epilepsi sendiri adalah angguan persyarafan otak yang menyebabkan kejang berulang yang disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal di dalam otak. 

Dikutip dari laman Universitas Airlangga Surabaya, unair.ac.id, Epilepsi bukan hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak bahkan juga pada bayi,

BACA JUGA: Tekan Angka Pernikahan Anak, Pemprov Sulsel Gandeng USAID Melalui Program ERAT

Secara global,menurut laman tersebut, diperkirakan lima juta orang didiagnosis menderita epilepsi setiap tahun. Risiko kematian dini pada orang dengan epilepsi tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui website resminya idai.or.id memberikan beberapa penjelasan terkait epilepsi pada anak.

Epilepsi pada anak adalah kejang berulang 2 kali atau lebih tanpa penyebab. Sebelum kejang, anak masih beraktivitas seperti biasa. Setelah kejang, anak juga dapat kembali beraktivitas seperti biasa.

BACA JUGA: PBB: 4,9 Juta Anak di Dunia Meninggal Sebelum Ulang Tahun Kelima

“Kejang pada epilepsi tidak harus kejang kelojotan dan mengeluarkan busa,” tulis lama itu.

Anak dengan epilepsi, mengalami serangan kejang dapat berupa kaku di seluruh tubuh, kejang kaku/kelojotan sebagian lengan atau tungkai bawah, kedutan di sebelah mata dan sebagian wajah, hilangnya kesadaran sesaat sehingga anak tampak bengong atau seperti melamun, tangan atau kaki tiba-tiba tersentak atau anak tiba-tiba jatuh seperti kehilangan tenaga.

BACA JUGA: Hati-hati Bunda, Ini Penyebab Makin Banyak Anak Terkena Diabetes!

Jika baru satu kali mengalami kejang tanpa penyebab (first unprovoked seizure), anak belum dapat dikatakan mengalami epilepsi. Namun, pemberian obat anti-epilepsi akan dipertimbangkan jika risiko berulangnya kejang cukup besar.

“Ini dapat dilihat dari pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) yang tidak normal, yaitu banyak terlihat fokus kejang. Selain itu, anak baru mengalami 1 kali kejang, tapi kejang berlangsung lama, yaitu lebih dari 30 menit,” lanjut tulisan pada laman IDAI.

Epilepsi disebut buka penyakit menular, juga bukan penyakit “kutukan”. Epilepsi sama saja dengan penyakit kronis lain seperti asma, diabetes, hipertensi, sehingga penyandang epilepsi janganlah diberikan stigma negatif.

BACA JUGA: 3 dari 10 Remaja Indonesia Alami Anemia, Kenali Bahaya dan Pencegahannya!

Faktor genetik memang berperan dalam epilepsi, tetapi tidak semua jenis epilepsi menunjukkan keturunan sebagai penyebab.

Pada anak dengan gangguan perkembangan otak, atau pernah mengalami perdarahan di kepala, riwayat radang otak, radang selaput otak, maupun berbagai penyakit lain dapat pula terjadi kerusakan sel-sel saraf di otak.

Sel-sel saraf yang rusak itulah yang suatu saat dapat menjadi focus timbulnya kejang pada epilepsi.

BACA JUGA: Hari Gizi Nasional dan Ancaman Obesitas pada Anak Indonesia

Sebagai penutut website IDAI memberikan penjelasan, jika seorang anak mengalami kejang berulang dua kali atau lebih pada episode yang berbeda dan tidak ada penyebab lain, anak tersebut sudah dikatakan epilepsi.

Pemeriksaan EEG terutama untuk melihat bagian otak yang menjadi asal foKus kejang (kanan/kiri, bagian depan/samping/belakang), penyebaran kejang ke daerah lain di otak, serta melihat jenis epilepsi.

“Semuanya bermanfaat untuk menentukan obat anti-epilepsi yang akan diberikan, jenis epilepsi, dan menentukan perjalanan epilepsi itu sendiri pada kemudian hari,” tutup tulisan pada laman itu.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *