Kerjasama Indonesia-Korea Selatan Identifikasi Ribuan Tanaman Obat

Arif Kunu
adan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB). (Foto: brin.go.id)
adan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB). (Foto: brin.go.id)

JAKARTA, Quarta.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB) melakukan riset bersama bioprospeksi tanaman obat Indonesia untuk khasiat kesehatan.

Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Sofa Fajriah mengatakan, kerja sama ini terlaksana dalam bentuk kegiatan eksplorasi, domestifikasi, hingga pemanfaatan tanaman obat itu sendiri.

Dikutip dari brin.go.id. hampir 2.000 koleksi tanaman obat telah hasilkan dari kerjasama tersebut. Saat ini, telah dikembangkan sepuluh tanaman obat unggulan Indonesia yang nantinya akan dikaji untuk pemanfaatan antiacne, antiinflamasi, dan antioksidan.

BACA JUGA: Sedang Program Diet, Ini Manfaat Daun Genjer yang Bantu Turunkan Berat Badan

“Banyak implementasi kegiatan yang akan kami lakukan dari kerja sama ini. Mulai dari pengambilan spesimen, identifikasi jenis tanaman obat, penyiapan ekstrak spesimen, melakukan kegiatan penelitian laboratorium yang meliputi uji in vitro antipenuaan, sitotoksisitas uji, dan uji in vivo antiinflamasi pada model hewan, melakukan peningkatan kapasitas, serta melakukan publikasi bersama,” kata Sofa, di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kamis (6/6/2024).

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN NLP Indi Dharmayanti menegaskan, BRIN terus berkomitmen mendukung penelitian dan eksplorasi tanaman obat di Indonesia.

BACA JUGA: BRIN Kembangkan Inovasi Bidang Kesehatan, Salah Satunya Obat Baru untuk Penderita Diabetes

Kerja sama ini berlangsung sejak 2008, dan diperbarui pada akhir 2023, sebagai acuan kegiatan kolaborasi riset di 2024.

“Kerja sama ini meliputi koleksi tanaman obat pilihan, megaton laboratorium untuk penelitian tanaman obat Indonesia, peningkatan kapasitas periset dan pertukaran ilmuwan, termasuk kegiatan terkait pembuatan ekstrak masif tanaman Ardisia humilis dan Ficus vilosa,” tutur Indi.

Tahun 2024, terdapat kerja sama baru terkait penyakit infeksi, yaitu dengan Infecius Research Center di bawah KRIBB, sebagai bagian Asia Pasifik Infecius Shield.

BACA JUGA: Kehadiran Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Terus Didorong, Seperti Ini Fungsinya

Menurut Indi, kerja sama internasional seperti ini membutuhkan waktu dan upaya semua pihak yang terlibat, termasuk partisipasi peneliti dan dukungan pihak terkait. Indi yakin, kemitraan ini akan terus berkembang menghadirkan ide-ide baru untuk membantu masyarakat.

“Kolaborasi ini bukan hanya tentang penemuan baru, ini juga tentang membangun keterampilan dan hubungan antara ilmuwan dan pertukaran ilmuwan dari kedua negara. Bersama kita akan mengatasi tantangan kesehatan dan lingkungan global berkelanjutan, memperkuat ikatan kedua negara dan peluang baru untuk kerja sama yang baru,” tegas Indi.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *