Siti Lestari
YOGYAKARTA, Quarta.id- Mahasiswa dari 20 negara berkumpul di Yogyakarta dan mengikuti kegiatan bertajuk One Health Summer Course dengan tema “Transdisciplinary One Health Approaches to Emerging and Re-Emerging Diseases”.
Acara dimaksud berlangsung dari tanggal 15 hingga 20 Juni 2026 di Kampus UGM di Yogyakarta.
Event ini menjadi forum pembelajaran dan kolaborasi lintas negara yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, dan kalangan profesional dalam memperkuat penerapan pendekatan One Health dalam merespons ancaman penyakit infeksi baru maupun yang kembali muncul.
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kembangkan Obat Terapi Kanker dari Albumin Ikan Gabus
Kegiatan yang diselenggarakan Satuan Tugas One Health UGm ini digelar secara secara luring maupun daring, program ini menggandeng partisipasi dari peserta dari Indonesia maupun mancanegara, seperti Pakistan, Palestina, Ethiopia, Filipina, India, Iran, Bangladesh, Timor Leste, Uganda, Yaman, Nigeria, Libya, Madagaskar, Maroko, Mesir, Nepal, Papua Nugini, Sudan, Myanmar, dan Amerika Serikat.
“Latar belakang peserta yang beragam ini memperkaya diskusi dengan perspektif global serta mempererat jejaring internasional di bidang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan,” tulis laman ugm.ac.id, dikutip Quarta.id, Selasa (23/6/2027).
BACA JUGA: Universitas Indonesia Perkuat Peran UMKM pada Wilayah Perbatasan RI-Malaysia
Fikri Wahiddinsyah, salah satu anggota penyelenggara summer course, mengatakan bahwa acara ini menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional membahas isu strategis mulai dari konsep dasar One Health, surveilans kesehatan manusia dan hewan, penyakit emerging dan re-emerging, infeksi jamur, sistem peringatan dini kesehatan masyarakat, hingga faktor evolusi yang mendorong munculnya patogen baru.
Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai zoonosis, konservasi satwa liar, ekologi perkotaan, serta aspek sosial dan budaya dalam penanganan wabah. “Berbagai materi tersebut menegaskan pentingnya integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks,” ujar Fikri dikutip dari sumber yang sama.
Sebagai wujud nyata implementasi konsep learning beyond the classroom, rangkaian acara dilanjutkan dengan kegiatan lapangan yang berlangsung selama dua hari dimana peserta mengunjungi Desa Wonokerto, Sleman, untuk mengamati langsung praktik pemberdayaan masyarakat sekaligus penerapan pendekatan One Health di tingkat komunitas.
“Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi dalam menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap berbagai risiko kesehatan,” tambah Fikri.
BACA JUGA: Keren! Mahasiswa ITB Ciptakan Inovasi untuk Minimalkan Lakalantas Akibat Sopir Mengantuk
peserta juga mengikuti kegiatan yang menggambarkan keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kegiatan pertama berlangsung di Bukit Turgo, Sleman, berupa aktivitas pengamatan burung (bird watching) sebagai pengenalan terhadap surveilans satwa liar serta peran burung sebagai indikator kesehatan ekosistem dan potensi reservoir penyakit zoonosis.
“Kegiatan kedua dilaksanakan di Rumah Sakit Akademik UGM, peserta mempelajari sistem pengelolaan limbah rumah sakit sebagai upaya mencegah pencemaran lingkungan dan mengendalikan penyebaran penyakit,” imbuh Fikri.