Ahmad Riadi
MAKASSAR, Quarta.id- Praktik politik sehat adalah ruh dari demokrasi yang terus didengungkan sejak era reformasi tahun 1998 silam. Seluruh elemen pada akhirnya diharapkan untuk memberi pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.
Adalah mahasiswa ilmu politik Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar yang menginisiasi edukasi praktik politik sehat melalui simulasi di ruang kelas, tepatnya di SMA Negeri 22 Gowa, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa pada 9,12 dan 26 Mei 2026.
Aktivitas dimaksud, terfdiri dari simulasi pemilihan, lengkap dengan debat, pemungutan suara, dan penghitungan hasil.
BACA JUGA: Anak Muda Ingin Indonesia Lebih Demokratis
“Simulasi ini untuk memberikan gambaran untuk siswa-siswa yang dalam dua atau tiga tahun ke depan akan pertama kali mencoblos di bilik suara yang sesungguhnya,” ujar Nafiz Khaliq Apir selaku ketua tim kepada Quarta.id, Selasa (26/5/2026).
Nafiz menambahkan, usia 15 sampai 17 tahun menjadi fase yang krusial untuk membentuk kebiasaan berpikir. dan hal itu kerap dipengaruhi oleh pengaruh eksternal yang tidak sepenuhnya positif.
Salah satu hal yang dalam penilaian mahasiswa Ilmu Politik Unhas perlu terus dibangun adalah kemampuan anak muda menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh propaganda dan berita hoaks.
BACA JUGA: Rakyat Lelah, Golput Merajalela
“Pemilih muda, terutama yang baru akan menggunakan hak pilihnya, ada di posisi yang paling rentan. Mereka antusias, tapi belum punya banyak referensi untuk memilah mana informasi yang layak dipercaya, mana yang sekadar propaganda, dan mana yang terang-terangan hoaks.,” lanjut Nafiz.
Program pemberdayaan masyarakat yang juga diikuti oleh Aura Juliya Putri dan Ditha Ardina Siful ini, berangkat dari keresahan yang sama. Mereka menyebutnya “penguatan imunitas informasi”:
“Program kami berorientasi pada upaya membangun pengetahuan dan daya nalar anak muda agar memiliki kemampuan untuk tidak langsung percaya begitu saja pada sesuatu hanya karena infromasinya tersebar luas (viral), ucap Aura Juliya Putri menambahkan.
BACA JUGA: BRIN Perkuat Minat Mahasiswa pada Riset Manuskrip Literatur dan Tradisi Lisan
Kegiatan ini disebut menjadi laboratorium sosial agar siswa dapat memahami konsep dasar demokrasi, bagaimana pemilu seharusnya bekerja, dan bagaimana mengenali informasi politik yang menyesatkan.
Program juga memberi ruang untuk siswa berdiskusi dalam kelompok kecil, menganalisis studi kasus nyata seperti potongan berita, unggahan media sosial, dan narasi kampanye yang sengaja dibuat untuk diuji, termasuk simulasi debat, pencoblosan dan perhitungan suara.
SMA Negeri 22 Gowa disebut punya potensi besar, siswa-siswanya responsif dan ikatan sosial di komunitas remajanya kuat, serta terhadap metode belajar yang interaktif.
“Tapi potensi itu tidak otomatis berubah jadi partisipasi politik yang berkualitas kalau tidak ada yang memfasilitasinya,” imbuh Ketua Tim, Nafiz Khaliq Apir.