Bakti M. Munir
INDONESIA memiliki jutaan pekerja muda yang masuk kategori generasi sandwich. Dalam situasi ekonomi yang serbasulit saat ini, bagaimana kondisi keuangan generasi sandwich? Akankah survive atau malah makin terhimpit?
Istilah generasi sandwich atau sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller pada 1980-an. Istilah itu untuk menggambarkan kelompok usia produktif (25-45 tahun) yang memikul beban keuangan tiga generasi sekaligus, yaitu orang tua (di atas), dirinya sendiri, dan anak (di bawah).
BACA JUGA: Gen Z dan Milenial Rentan Terjerat Utang Pinjol, Pakar UGM Beri Tips Hindari Gagal Bayar
Sandwich sangat pas digunakan sebagai metafora. Pada lapisan tengah sandwich terdapat irisan daging yang menjadi isi sandwich. Lapisan tengah ini terjepit dan terhimpit. Demikian pula hidup generasi sandwich.
Ada orang yang menganggap kondisi generasi sandwich sebagai hal biasa sebagai bentuk bakti seorang anak kepada keluarganya. Namun kenyataannya, mereka yang terjebak dalam situasi ini dapat mengalami tekanan luar biasa. Generasi sandwich yang terdiri atas milenial dan Gen Z sangat rentan mengalami stres, burnout, dan kesulitan keuangan.
BACA JUGA: OJK Dorong Ibu Rumah Tangga Cerdas Kelola Keuangan Keluarga, Berikut Tipsnya!
Di Indonesia, generasi sandwich jadi fenomena umum. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2020, terdapat 71 juta penduduk di Indonesia yang merupakan generasi sandwich. Sebanyak 8,4 juta di antaranya tinggal bersama anggota keluarga di luar keluarga inti.
Jumlah generasi sandwich Indonesia yang menanggung beban terus bertambah seiring waktu. Ini disebabkan bertambahnya jumlah lansia yang memerlukan dukungan finansial dari anak-anak mereka. Data BPS menyebut jumlah lansia mencapai 33,16% rumah tangga pada 2023.
BACA JUGA: Gen Z Wajib Tahu! Rumus Memasuki Dunia Kerja Ala GenerasiCakap
Tekanan sebagai generasi sandwich diakui Muhammad Cepy. Pria yang bekerja sebagai Customer Service Officer di sebuah perusahaan media di Jakarta ini mengaku harus pandai-pandai menyiasati gaji yang diperolehnya agar tetap cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya
Belakangan kondisi keuangan diakui lebih sulit karena perusahaan kerap melakukan pemotongan gaji karyawan dengan dalih mengikuti regulasi pemerintah.
“Selain untuk biaya hidup keluarga, kan mesti ngasih juga ke orang tua. Kalau makin banyak potongan, kita tambah sulit. Apalagi sekarang kan harga-harga pada mahal,” ujarnya kepada Quarta.id, Rabu (18/3/2026).
Sebagai karyawan outsourcing sejak 2012, Cepy mengaku hanya mendapatkan gaji standar upah minimum regional (UMR) Jakarta. Dia berharap kondisi perekonomian bisa membaik agar karyawan swasta sepertinya bisa mendapat upah yang lebih layak.
Dia mengaku tidak mengeluhkan posisinya sebagai generasi sandwich. Dia berusaha mencari penghasilan tambahan, termasuk menjadi ojek online.
“Pernah mencoba cari penghasilan tambahan di luar jam kantor biar nggak hanya andalin gaji. Tapi tidak selalu mudah karena jam masuk kantor sekarang sering berubah, kadang masuk pagi, besoknya lagi siang,” lanjutnya.
Jurus Atasi Kesulitan
Akibat beban keuangan, generasi sandwich juga rentan terjerat pinjaman online (pinjol). Berdasarkan data OJK, hingga Maret 2024 ada 9,18 juta rekening pinjol dari kelompok usia 19 – 34 tahun. Nilai pinjaman mencapai Rp28,80 triliun, naik nyaris Rp2 triliun hanya dalam setahun.
Beban ganda pada akhirnya menuntut generasi sandwich terampil dalam mengelola keuangan. Strategi hemat bisa jadi solusi terutama bagi mereka yang bergaji UMR sepertti Cepy.
Namun upaya berhemat pun tetap sebuah tantangan. Apalagi, gaya hidup instan yang dikampanyekan oleh media sosial membuat generasi sandwich kerap berperilaku boros.
BACA JUGA: Gen Z Perlu Tahu, Ini Pentingnya Manusia Hidup Harmonis dengan Satwa Liar di Habitatnya
Hal ini diungkapkan pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara. Menurutnya, media sosial telah melahirkan perilaku FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan isu atau tren terbaru.
Selain itu, banyak milenial atau Gen Z yang menganut filosofi YOLO (You Only Live Once) atau “hidup cuma sekali”. Dorongan untuk menikmati momen “saat ini” tanpa perlu memikirkan masa depan, tidak peduli tabungan, bisa menjebak generasi sandwich.
“Ada yang berprinsip mumpung punya duit, terserah saya. Mereka khawatir cyrcle melemah sehingga akhirnya ikut-ikutan tren. Ini bisa jadi jebakan karena perilaku seperti itu mempengaruhi spending,” ujarnya kepada Quarta.id.
Menghindari pola hidup konsumtif, tidak terjebak gaya hidup yang tidak sesuai kondisi dan mengelola kebutuhan dengan baik disebut langkah penting untuk memutus rantai generasi ini.
BACA JUGA: Petani Millenial Dinilai Bisa Jadi Solusi Atasi Krisis Pangan
Dosen pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM ini menyarankan, untuk bisa keluar dari tekanan keuangan generasi sandwich perlu memperhatikan dua hal.
Pertama, berusaha menabung dengan memperhatikan keseimbangan antara income dengan spending. Income adalah gaji atau penghasilan yang diterima dalam sebulan, sedangkan spending adalah pengeluaran bulanan yang biasanya terdiri dari biaya hidup sehari-hari, biaya transportasi, dan uang untuk nongkrong atau hangout. Jika ada selisih positif atau ada uang tersisa, harus bisa ditabung.
“Harus mampu kelola ego, harus bisa bedakan mana kebutuhan mana keinginan. Misalnya, kalau bisa masak sendiri di rumah, ya nggak harus beli,” ujarnya memberi saran.
BACA JUGA: Gen Z Wajib Tahu! Rumus Memasuki Dunia Kerja Ala GenerasiCakap
Kedua, generasi sandwich jangan hanya mengandalkan satu sumber pemasukan. Perlu ada penghasilan lain. Income atau gaji jangan jadi andalan satu-satunya. Karena itu dia menyarankan agar milenial dan Gen Z mengasah skill sebagai modal berkreasi agar dapat uang tambahan.
“Terus upgrade skill selagi muda. Skill perlu diasah agar nanti ada tambahan penghasilan. Ada tambahan berarti income per bulan juga naik. Artinya, peluang untuk saving juga makin besar,” paparnya.
Skill di bidang investasi menurutnya perlu untuk dicoba. Milenial dan Gen Z perlu meluangkan waktu belajar tentang saham, reksadana, atau obligasi.
BACA JUGA: Dukung Penerapan Green Jobs 2025-2029, Kemnaker: Lapangan Kerja Hijau Prioritas, Tak Bisa Dihindari
Kabar baiknya, kata dia, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ada kecenderungan anak muda tertarik main saham. Itu bisa dilihat dari profil investor pasar modal Indonesia yang lebih 50% didominasi oleh Gen Z dan milenial dengan usia di bawah 30 tahun.
“Perlu diingat juga agar tidak memilih investasi yang berisiko tinggi. Jangan dulu main crypto apalagi berani coba-coba slot,” tegasnya.