UNM Dorong Warga Pangkep Olah Limbah Tulang Ikan Bandeng Jadi Kitosan Bernilai Ekonomi

Ahmad Riadi
Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Kelurahan Sapanang, Kabupaten Pangkep (Foto: Istimewa)
Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Kelurahan Sapanang, Kabupaten Pangkep (Foto: Istimewa)

PANGKEP, Quarta.id – Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) mendorong pemanfaatan limbah tulang ikan bandeng menjadi produk kitosan bernilai ekonomi melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Kelurahan Sapanang, Kabupaten Pangkep.

Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan limbah hasil perikanan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Tingginya aktivitas pengolahan dan konsumsi ikan bandeng di wilayah tersebut menghasilkan limbah tulang ikan dalam jumlah cukup besar yang umumnya hanya dibuang sebagai sampah rumah tangga. Kondisi ini tidak hanya berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, tetapi juga membuat potensi ekonomi dari limbah perikanan belum termanfaatkan secara maksimal.

BACA JUGA: Dosen UNM Perkuat Kompetensi Guru Kimia Pangkep melalui Pelatihan Modul ESD-PjBL

Kegiatan pengabdian melibatkan masyarakat pesisir, khususnya kelompok ibu rumah tangga dan pelaku usaha pengolahan hasil perikanan. Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan yang dilaksanakan pada 25 April 2026 dengan pendekatan partisipatif, mulai dari penyuluhan hingga praktik langsung pengolahan limbah tulang ikan bandeng menjadi kitosan.

Tim pengabdian diketuai oleh Dr. Muhammad Syahrir, S.Pd., M.Si., dengan melibatkan dosen dan tenaga ahli yang memberikan materi mengenai pengelolaan limbah perikanan, potensi kitosan, serta diversifikasi limbah tulang ikan menjadi produk bernilai tambah. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mengikuti demonstrasi dan praktik langsung proses pembuatan kitosan.

BACA JUGA: Program Pengabdian kepada Masyarakat 2026: UNM Dampingi Petani Bawang Merah Desa Telle Gunakan Pengering Hibrid

Proses pelatihan mencakup tahapan pembersihan bahan baku, pengeringan, penghalusan tulang ikan, deproteinasi, demineralisasi, hingga deasetilasi.

“Setelah memperoleh penjelasan dari tim pengabdian, peserta diberi kesempatan melakukan praktik secara langsung dengan pendampingan sehingga mereka dapat memahami tahapan produksi secara lebih sistematis.” ucap Muhammad Syahrir.

Menurut Muhammad Syahrir, hasil kegiatan menunjukkan perubahan yang cukup signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta. Sebelum kegiatan, sebagian besar peserta menganggap tulang ikan hanya sebagai limbah yang tidak memiliki nilai guna.

“Setelah mengikuti sosialisasi dan pelatihan, masyarakat mulai memahami bahwa limbah tersebut dapat dikembangkan menjadi kitosan yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai bidang,” ucapnya.

BACA JUGA: Tim PKM FMIPA UNM Bina Warga Herlang di Kabupaten Bulukumba, Ubah Limbah Kayu Jadi Sumber Pendapatan Baru

Evaluasi terhadap peserta menunjukkan tingkat pemahaman yang tinggi. Pengetahuan peserta mengenai kitosan mencapai 85 persen, pemahaman terhadap prosedur pembuatan kitosan mencapai 90 persen, keterampilan peserta mencapai 90 persen, sedangkan pemahaman mengenai manfaat kitosan mencapai 100 persen. Hasil tersebut juga terlihat dari kemampuan peserta mempraktikkan tahapan produksi secara mandiri selama kegiatan berlangsung.

Selain aspek teknis produksi, kegiatan ini turut memberikan wawasan mengenai peluang usaha berbasis limbah perikanan. Peserta memperoleh pemahaman mengenai strategi pemasaran, penentuan harga, hingga pengemasan produk. Bahkan, beberapa peserta mulai merencanakan pembentukan kelompok produksi kecil yang melibatkan Karang Taruna dan kelompok PKK sebagai langkah awal untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.

Program tersebut juga memberikan dampak terhadap meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah berbasis lingkungan. Pemanfaatan tulang ikan bandeng dinilai dapat membantu mengurangi penumpukan sampah organik dan bau tidak sedap di lingkungan permukiman pesisir. Pada saat yang sama, pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal.

BACA JUGA: Didukung DPPM Kemendikbudristek, PKM UNM Dorong Kemandirian Ekonomi Lokal dan Swasembada Energi Melalui Produk Berbasis Kelapa

Meski demikian, tim pengabdian masih menemukan sejumlah tantangan dalam pengembangan program.

“Beberapa di antaranya adalah keterbatasan peralatan produksi, minimnya pengalaman masyarakat dalam pengolahan bahan kimia sederhana, keterbatasan informasi pemasaran, serta proses pengeringan bahan baku yang masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Karena itu, pendampingan lanjutan dinilai penting untuk meningkatkan konsistensi kualitas dan kapasitas produksi,” ungkap Muhammad Syahrir.

Melalui kegiatan ini, tim PKM UNM berharap pengolahan limbah tulang ikan bandeng tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang berkelanjutan. Ketersediaan bahan baku yang melimpah serta tingginya minat masyarakat menjadi modal penting untuk mengembangkan kitosan sebagai salah satu produk olahan berbasis potensi lokal.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi sederhana dalam pengelolaan limbah dapat menghadirkan manfaat ganda: mengurangi persoalan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08