BRIN Kembangkan Teknologi untuk Deteksi Tingkat Stres dan Kecemasan Karyawan

Siti Lestari
1715759371-679235

JAKARTA, Quarta.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) tengah mengembangkan sistem analisis psiko-fisiologis untuk validasi tingkat kecemasan dan stres pegawai.

Peneliti Ahli Madya PRMC BRIN Dwi Esti Kusumandari mengatakan, riset ini berpeluang untuk membuat pemetaan sensor yang bisa mendeteksi kecemasan dan tingkat stres pada pegawai.

Dalam pengembangannya, BRIN bekerja sama dengan PT. Docheck Bagi Indonesia, perusahan swasta yang bergerak di bidang pengembangan platform mental health, melalui Perjanjian Kerja Sama yang ditandatangani di Bandung, Senin (13/5/2024).

BACA JUGA: Mengenal Social Anxiety Disorder, Gangguan Kesehatan Mental yang Paling Banyak Menimpa Remaja Indonesia

“Kegiatan riset yang akan dilakukan adalah membuat suatu teknologi pengukur tingkat kecemasan atau stres pegawai. Saat ini, PT. Docheck Bagi Indonesia sebagai mitra kegiatan telah mengembangkan Wool, sebuah platform pengukur tingkat kecemasan menggunakan metode Enneagram yang sudah diakui secara internasional,” tutur Dwi dikutip dari brin.go.id.

Dia menambahkan, PRMC BRIN juga telah mengembangkan sistem deteksi stres berbasis biosignal tubuh.

“Dengan kerja sama riset ini, akan dilakukan penggabungan metode Enneagram dan pengukuran sinyal biopotensial tubuh (sinyal otak, jantung, dan kulit) untuk pengukuran tingkat kecemasan atau stres yang lebih valid,” ujarnya.

BACA JUGA: Hari Lupus Sedunia 10 Mei, Peringatan untuk Berjuang Bersama Melawan Lupus

Maksud kegiatan ini, terang Dwi, adalah memetakan jenis sensor yang tepat untuk dipakai dalam pendeteksian kecemasan dan stres, seperti sensor EEG, HRV, dan GSR untuk disesuaikan dengan aktivitas kerja para pegawai.

Sehingga, terciptanya sebuah standar pemilihan jenis sensor yang tepat untuk diterapkan pada setiap level pegawai perusahaan.

“Selain itu, tujuan dari kegiatan ini adalah terciptanya metode pembacaan sinyal biopotensial yang dihasilkan dari alat sensor yang dipakai, dan melakukan interpretasi untuk memetakan tingkat kecemasan dan stres,” tambah Dwi.

BACA JUGA: Sering Terjebak Macet Jadi Pemicu Resiko Penyakit Jantung? Ini Penjelasan Ahli

Dwi optimis, alat ukur andal ini akan menjadi terobosan dan memberi sumbangsih besar kepada dunia konseling. Khususnya, perusahaan-perusahaan di Indonesia baik perusahaan BUMN maupun swasta yang lingkungan kerjanya memicu kecemasan dan stres tinggi, seperti perminyakan, pertambangan, gas, serta manufaktur dan rancang bangun.

Dirinya berharap, hasil kegiatan kerja sama ini adalah dikuasainya beberapa teknologi yang tepat untuk membaca biopotensial pengguna, untuk mengetahui kondisi kecemasan dan stres di tempat kerja.

Serta, menghasilkan bentuk laporan dengan grafik biopotensial dan interpretasi dari sinyal tersebut terhadap kondisi mental health pengguna di tempat kerja

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *