Bakti M. Munir
JAKARTA. QUARTA.ID- Iran sebagai bangsa memiliki akar sejarah panjang bahkan telah ada jauh sebelum peradaban Islam lahir. Iran juga bukan negara Arab sebagaimana sering dipersepsikan oleh masyarakat global.
Hari-hari terakhir ini dunia dibuat tercengang oleh Iran. Ketangguhan negara ini dalam berperang menghadapi duet Amerika Serikat dan Israel membuat seantero dunia takjub. Tidak hanya tangguh dalam bertahan, Iran juga mampu menyerang balik musuh dengan menggunakan rudal dan drone canggih yang memiliki daya rusak tinggi dan sulit diprediksi.
BACA JUGA: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh Tewas Terbunuh di Iran
Dunia akhirnya melihat bahwa Iran tidak sekadar berperang, melainkan sedang memproklamasikan kehebatan dan kemajuan militer sebuah bangsa. Iran mampu membangun persenjataan modern meski selama puluhan tahun berada dalam tekanan akibat embargo AS-Barat.
Para analis pun ramai-ramai mengulas rahasia di balik kehebatan negara Timur Tengah ini. Bagaimanakah sejarah negara Iran? Bagaimana pula bangsa Persia mewarnai peradaban dunia selama ribuan tahun hingga mampu berdiri dengan martabat yang tinggi hingga hari ini?
Berikut ini Quarta.id mengulas sejarah perjalanan negara Iran dan bangsa Persia yang dirangkum dari ndtv.com dan sumber lain.
BACA JUGA: Indonesia Antisipasi Gejolak Ekonomi Dampak Serangan Iran ke Israel
Media kerap mengelompokkan Iran ke dalam bagian negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, atau Uni Emirat Arab. Banyak yang berasumsi bahwa mereka semua memiliki akar etnis yang sama padahal tidak.
Secara geografis, Iran terletak di Asia Barat, sebagian besar penduduknya beragama Islam, dan bahasa tulisannya menggunakan aksara yang bentuknya mirip dengan bahasa Arab.
BACA JUGA: MUI Resmi Berhentikan Dua Pengurusnya yang Terkait Israel
Namun Iran bukanlah negara Arab. Perbedaannya terletak pada sejarah, bahasa, suku, dan budaya. Ada lapisan-lapisan yang berumur ribuan tahun.
Arti “Iran”
Nama Iran berasal dari kata kuno yang dikaitkan dengan “Arya,” yang berarti “Tanah Arya.” Ini berasal dari akar bangsa Indo-Iran yang membangun peradaban awal Persia. Iran modern secara historis dikenal sebagai Persia. Kedua nama tersebut mengacu pada negara yang sama, namun “Iran” lebih terhubung langsung dengan identitas kunonya.
Etnis di Iran
Perbedaan yang paling penting adalah identitas etnis. Kebanyakan orang di Iran adalah orang Persia, bukan Arab. Orang Persia berjumlah sekitar 60% dari populasi. Ada juga komunitas besar Azeri, Kurdi, Lurs, dan Baluchi. Sebuah minoritas kecil di barat daya mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Arab.
BACA JUGA: Yahya Sinwar Pemimpin Baru Hamas, Sosok Paling Dicari Israel
Identitas Arab terikat pada orang-orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab dan nenek moyangnya berasal dari Jazirah Arab. Populasi Arab terkonsentrasi di Semenanjung Arab dan sebagian Afrika Utara dan Levant.
Iran secara geografis dekat dengan negara-negara Arab, namun etnisitas tidak ditentukan oleh geografi saja.
Bahasa di Iran
Bahasa memberikan salah satu perbedaan yang paling jelas. Bahasa resmi Iran adalah bahasa Persia, juga dikenal sebagai Farsi. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, sama dengan bahasa Inggris, Hindi, dan Prancis. Bahasa Arab termasuk dalam rumpun bahasa Semit.
Meskipun bahasa Persia saat ini menggunakan aksara yang berasal dari huruf Arab, namun struktur, tata bahasa, dan kosakata intinya berbeda. Seorang penutur bahasa Arab tidak bisa otomatis mengerti bahasa Persia, dan penutur bahasa Persia tidak bisa otomatis mengerti bahasa Arab.
BACA JUGA: Tegas! Delegasi Palestina Tolak Salaman dengan Israel di Olimpiade Paris
Bahasa Persia juga mengandung huruf-huruf yang tidak digunakan dalam bahasa Arab, termasuk bunyi seperti “p”, “ch”, “g”, dan “zh”. Kemiripan visual dalam tulisan seringkali menimbulkan kebingungan, namun secara linguistik keduanya merupakan bahasa yang terpisah.
Sejarah: Persia Jauh Sebelum Islam
Identitas Iran dibentuk oleh kerajaan-kerajaan kuat jauh sebelum kebangkitan Islam. Pada abad ke-6 SM, Cyrus Agung mendirikan Kekaisaran Achaemenid, salah satu kerajaan terbesar di dunia kuno.
Ibukota seremonialnya, Persepolis, masih berdiri dalam reruntuhan hingga saat ini. Kekuasaan Persia pernah membentang dari sebagian Asia Selatan hingga Mediterania.
BACA JUGA: ICJ Putuskan Pendudukan Israel di Palestina Ilegal dan Harus Segera Diakhiri
Dunia Persia kemudian mencakup kerajaan Parthia dan Sasanian. Negara-negara bagian ini mengembangkan sistem pemerintahan, arsitektur, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan sastra yang membentuk peradaban yang berbeda.
Identitas Arab berkembang di Jazirah Arab. Pada abad ke-7 M, kebangkitan Islam menyatukan suku-suku Arab dan menyebabkan perluasan kekuasaan Arab di sebagian besar Asia Barat dan Afrika Utara.
Pasukan Muslim Arab menaklukkan Persia pada abad ke-7. Islam lambat laun menjadi agama dominan. Namun bahasa dan identitas Persia, bukannya menghilang, malah beradaptasi dan berlanjut.
Agama di Iran
Agama adalah area lain di mana persamaan dapat menyembunyikan perbedaan. Iran adalah negara mayoritas Muslim. Kebanyakan orang Iran menganut Islam Syiah, sementara sebagian besar negara Arab mayoritas Muslim Sunni.
BACA JUGA: Dukung Rakyat Palestina, Kanada Stop Penjualan Senjata ke Israel
Sebelum Islam, sebagian besar orang Persia kuno menganut Zoroastrianisme, salah satu agama monoteistik tertua di dunia. Unsur-unsur sistem kepercayaan kuno tersebut masih membentuk budaya Iran hingga saat ini.
Nowruz, Tahun Baru Persia yang dirayakan pada awal musim semi, sudah berabad-abad mendahului Islam dan tetap menjadi salah satu tradisi nasional terpenting Iran. Ini bukan festival budaya Arab.
Iran juga merayakan hari raya Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha, seperti halnya komunitas Muslim di seluruh dunia.
Identitas Politik
Iran bukan anggota Liga Arab, organisasi regional yang terdiri dari negara-negara berbahasa Arab. Keanggotaannya umumnya didasarkan pada identitas Arab dan bahasa Arab sebagai bahasa utama.
BACA JUGA: ICJ Putuskan Pendudukan Israel di Palestina Ilegal dan Harus Segera Diakhiri
Meskipun Iran dan negara-negara Arab telah berinteraksi selama lebih dari 1.400 tahun, mereka tetap berbeda secara historis dan etnis. Iran terletak di Asia Barat, wilayah yang mencakup negara-negara Arab dan non-Arab. Geografi saja tidak menentukan identitas etnis atau budaya.
Sama seperti Eropa yang memiliki banyak kelompok etnis dan bahasa yang berbeda, Asia Barat juga beragam. Turki bukan Arab. Iran bukan Arab. Wilayah ini mencakup banyak peradaban dengan akar yang berbeda.
Resiliensi Bangsa Iran
Iran adalah bukti nyata ketangguhan dan resiliensi sebuah bangsa. Sejak era Persia bangsa ini sudah berkali-kali berperang. Bangsa Persia, melalui berbagai dinasti seperti Akhemeniyah, Parthia, dan Sasanian, pernah terlibat peperangan panjang melawan Yunani Kuno (terutama Athena & Sparta), Kekaisaran Romawi/Bizantium, serta suku-suku nomaden seperti Scythia dan Turki Barat. Mereka juga berperang melawan Mesir, Asyur, dan diakhiri penaklukan oleh Kekhalifahan Rashidun.
BACA JUGA: Tiga Negara Eropa Resmi Akui Negara Palestina, Menlu Norwegia: Tonggak Sejarah!
Di zaman modern, Iran juga berperang selama 8 tahun tanpa henti dengan tetangganya Irak yang disponsori AS. Memasuki 2026, ketangguhan Iran kembali diuji melalui serangan zionis Israel yang dibantu AS. Perang sudah berjalan hampir dua pekan. Belum ada tanda-tanda Iran mengendur atau mengisyaratkan kekalahan.
Bahkan, melalui pemimpin barunya, Mojtaba Khamenei yang menggantikan mendiang ayahnya yang gugur oleh serangan Israel-AS, Ayatollah Ali Khamenei, Iran semakin gencar melancarkan serangan balasan. “Iran tidak pernah membicarakan gencatan senjata. Hanya kami (Iran) yang bisa memutuskan kapan perang ini akan berakhir,” demikian pernyataan sejumlah petinggi Iran.