Akibat Deforestasi, Primata Indonesia Paling Terancam di Dunia

Bakti M. Munir
Orangutan Kalimantan termasuk primata yang terancam akibat deforestasi dan perburuan liar. (Foto: menlhk.go.id))
Orangutan Kalimantan termasuk primata yang terancam akibat deforestasi dan perburuan liar. (Foto: menlhk.go.id))

JAKARTA, Quarta.id– Indonesia memiliki 66 jenis primata atau setara dengan 12,8% dari primata yang ada di dunia. Namun, sayangnya, primata di Tanah Air justru yang paling terancam kehidupannya terutama akibat deforestasi masif, konversi lahan, dan perburuan.

BACA JUGA: Yuk, Jaga Habitat dan Kelestarian Burung Air, Ini Peran Pentingnya bagi Manusia dan Alam

Menurut Mammal Diversity Database 2025, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman jenis primata tertinggi di dunia. Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brazil dan Madagaskar. Primata tersebar di empat pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.

Menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List), dari 66 jenis primata Indonesia, 12 jenis berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis berstatus Endangered (terancam), 26 jenis berstatus Vulnerable (rentan).

BACA JUGA: Gen Z Perlu Tahu, Ini Pentingnya Manusia Hidup Harmonis dengan Satwa Liar di Habitatnya

Ada satu jenis berstatus Near Threatened (hampir terancam) dan dua jenis masih Data Deficient (informasi kurang). Selain itu, berdasarkan status perdagangan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sebagian besar primata Indonesia masuk ke dalam kategori Appendix I dan Appendix II.

Appendix I merupakan daftar yang berisi nama-nama spesies satwa atau tumbuhan yang terancam punah yang haram untuk diperdagangkan, kecuali untuk keperluan terbatas (misalnya penelitian). Sementara itu, Appendix II memuat semua spesies yang tidak terancam punah, boleh diperdagangkan namun dengan pengaturan yang ketat agar tidak dieksploitasi berlebihan.

BACA JUGA: Populasi Satwa Liar Menurun 73% Dalam 50 Tahun akibat Perubahan Iklim

Berdasarkan status perlindungannya, di Indonesia terdapat 37 jenis primata masuk dalam daftar satwa yang dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018.

Selain itu, menurut Laporan Primates in Peril periode tahun 2023–2025 yang dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild baru-baru ini, terdapat empat jenis primata Indonesia yang masuk dalam kategori kritis atau sangat terancam oleh kepunahan di dunia, yaitu orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), dan owa simakobu (Simias concolor).

BACA JUGA: Menyedihkan, Satwa dan Tumbuhan Langka Ini Terancam Punah akibat Kebakaran Bromo

Termasuk pula lutung sentarum (Presbytis chrysomelas), dan tarsius sangihe (Tarsius sangirensis). Laporan yang memuat lebih dari 100 hasil penelitian pakar primata ini merupakan edisi ke-12 dari daftar yang dirilis setiap dua tahun yang mengidentifikasi spesies primata paling membutuhkan tindakan konservasi.

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies kera besar yang telah dipisahkan dari orangutan sumatera (Pongo abelii) pada akhir tahun 2017 lalu.

BACA JUGA: Mencintai Satwa Bukan dengan Cara Memiliki, tapi Membiarkan Lepas di Alam Bebas

Menurut Daftar Merah IUCN, orangutan tapanuli berstatus Critically Endangered (kritis) karena habitatnya terbatas hanya di Hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan di Sumatera Utara. Selain itu, berdasarkan CITES, orangutan tapanuli masuk ke dalam kategori Appendix I dan merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

BACA JUGA: Keren! Gerakan Literasea di Kabupaten Bone Ini Gelar Cleanup di Sungai Bulu, Angkat 70 Kg Sampah Plastik

Berdasarkan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Pemerintah Indonesia 2019-2029, populasi orangutan tapanuli diperkirakan berjumlah hanya 577-760 individu.

Simakobu (Simias concolor)
Simakobu (Simias concolor) adalah primata endemik Kepulauan Mentawai yang tersebar di empat pulau utama, yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Simakobu memiliki dua subjenis, yaitu Simias concolor concolor yang tersebar di Pulau Sipora, Pagai, dan pulau kecil sekitarnya.

BACA JUGA: Menyedihkan, Satwa dan Tumbuhan Langka Ini Terancam Punah akibat Kebakaran Bromo

Sedangkan Simias concolor siberu yang hanya ada di Pulau Siberut. Menurut IUCN, Simakobu masuk ke dalam kategori Critically Endangered (Kritis) dan masuk ke dalam kategori Appendix I berdasarkan CITES, serta termasuk satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Populasinya menurun drastis hingga 75% sejak 1980 dan kini hanya tersisa berkisar 6.700–17.300 individu. Penurunan populasi mereka akibat deforestasi, degradasi habitat dan perburuan.

BACA JUGA: Yuk, Kenali Forest Restoration Project: Aksi Tanam Pohon Spesies Langka di Hutan Sumatra

Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas)
Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas) merupakan primata dari kelompok monyet daun (Colobinae) yang dulunya tersebar luas di barat laut Borneo, namun kini hanya ditemukan di sekitar 5% dari sebaran historisnya. Habitat utamanya berada di dataran rendah, hutan rawa, gambut, dan mangrove. Saat ini populasinya hanya sekitar 200–500 individu. Menurut IUCN, lutung sentarum masuk ke dalam status Critically Endangered (kritis), namun sayangnya belum masuk daftar satwa dilindungi Indonesia.

BACA JUGA: Siswa Ikut Peringati Hari Menanam Pohon Indonesia, Ikhtiar Bersama Melestarikan Hutan

Tarsius sangihe (Tarsius sangirensis)
Tarsius sangihe adalah primata kecil yang hanya hidup di Pulau Sangihe, yang merupakan satu dari 12 jenis tarsius yang ada di dunia.

Sebagai primata nokturnal karnivora, primata unik ini memangsa serangga dan menunjukkan morfologi khas seperti mata besar, ekor panjang, dan kemampuan memutar kepala hampir 180°. Saat ini, populasinya diperkirakan hanya sekitar 464 individu. Mereka dikategorikan sebagai Endangered (terancam) oleh IUCN dan termasuk satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

BACA JUGA: Swasta Jepang Digandeng Pulihkan Hutan Riau, Tanam Bibit Pohon yang Terancam Punah

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan primata memainkan peranan penting dalam sebuah ekosistem, sebagai agen penyebar biji (seed disperser) utama yang memastikan berlangsungnya regenerasi dan menjaga keragaman spesies di hutan hujan tropis, serta keberadaannya dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem. “Melalui pola makan frugivora, mereka menanam kembali hutan secara alami, mengendalikan populasi serangga, dan menunjang siklus hara tanah,” ujarnya melalui keterangan tertulis.

Primata di Indonesia diakuinya menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan, terutama akibat deforestasi masif, konversi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Fragmentasi hutan mengisolasi populasi, sementara konflik manusia-primata meningkat karena berkurangnya ruang hidup.

BACA JUGA: Yuk, Kenali Forest Restoration Project: Aksi Tanam Pohon Spesies Langka di Hutan Sumatra

Oleh karena itu, peringatan Hari Primata Indonesia diakuinya jadi momentum penting guna mendorong kolaborasi multipihak dengan konsep pentahelix dalam mendukung program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia.

Konsep tersebut menggabungkan peran akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media. “Tentu saja butuh koordinasi yang baik, juga komitmen tinggi, dari berbagai pihak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing,” ujar Dolly.

Sebagai informasi, Hari Primata Indonesia yang diperingati setiap 30 Januari yang diinisiasi oleh PROFAUNA sebagai bentuk keprihatinan terhadap aktivitas perdagangan dan perburuan primata yang semakin tinggi.

BACA JUGA: Hadapi Perubahan Iklim, BRIN Dorong Penguatan TTG Bidang Pertanian

Peringatan Hari Primata dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga dan komunitas pemerhati satwa yang bertujuan untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga primata Indonesia di habitat alaminya. Hal ini juga menjadi upaya dalam menekan laju kepunahan terhadap primata Indonesia terhadap aktivitas perusakan habitat dan perburuan.

Tentang Belantara Foundation
Belantara Foundation adalah organisasi nirlaba independen berbasis di Indonesia yang didirikan pada tahun 2014. Belantara memainkan peran penting dalam konservasi lingkungan, restorasi hutan, konservasi satwa liar, dan pengembangan masyarakat berkelanjutan di seluruh Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan.

BACA JUGA: Hadapi Climate Change, Petani Didorong Miliki Literasi Iklim

Misi Belantara adalah untuk mendukung pengelolaan lanskap berkelanjutan, mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi jangka panjang, meningkatkan penghidupan masyarakat lokal, dan melindungi lingkungan.

Ikuti Kami :

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08