Home EVENT

ITB dan Komunitas Lingkungan di Kepulauan Selayar Gelar Ecobrick Fest

admin
Suasana event Ecobrick Fest yang digelar oleh ITB bersama Komunitas Selayar Bebas Sampah Plastik di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Foto: Dok. Organisasi Selayar Bebas Sampah Plastik)
Suasana event Ecobrick Fest yang digelar oleh ITB bersama Komunitas Selayar Bebas Sampah Plastik di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Foto: Dok. Organisasi Selayar Bebas Sampah Plastik)

Kepulauan Selayar, QUARTA.ID – Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggandeng organisasi Selayar Bebas Sampah Plastik (SBSP) di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan dalam acara bertajuk Ecobrick Fest, Minggu (29/5/2022).

Agenda tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan anak muda dan remaja di Kepulauan Selayar. “Sekitar 4o orang peserta hadir pada acara puncak, sementara peserta lainnya dihadirkan pada saat pra event melalui Ecobrick Fest Road to School di tiga sekolah”, ujar Muh. Nursam selaku project officer Ecobrick Fest.

“Adapun acara ini berisikan sosialisasi polusi sampah plastik dan ecobrick sebagai salah satu solusi daur ulang,” lanjut Muh. Nursam pada lokasi acara puncak di Ramdhan Coffee, Bontoharu, Kepulauan Selayar, Minggu (29/5/2022).

Sementara itu, Program Manager SBSP, Hasri Tsurayya, mengungkapkan alasan memilih anak muda sebagai peserta kegiatan karena pribadi anak-anak muda sebagai individu yang sedang dalam proses pencarian jati diri, memudahkan upaya menyampaikan pesan-pesan terkait sampah plastik dan ecobrick sebagai salah satu solusi.

“Secara umum, kegiatan di SBSP banyak melibatkan keberadaan anak muda agar penyampaian pesan lebih efektif dan tepat sasaran,” ungkap Hasri.

Dosen dan Peneliti SAPPK ITB, Nurrohman Wijaya yang tampil memberi sambutan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, sekaligus mengajak para anak muda untuk ambil bagian dalam upaya memutus mata rantai masalah persampahan di Indonesia.

“Berbicara sampah, terutama sampah plastik, persoalannya sangat kompleks karena manyangkut kebijakan, kesadaran dan infrastruktur. Semua pihak harus mengambil peran didalamnya, terutama anak muda,” kata Nurrohman didepan seluruh peserta.

Adapun ecobrick merupakan istilah yang digunakan untuk menamai hasil pengelolaan sampah plastik yang menjadi sebuah bata. Kata ecobrick sendiri berasal dari kata “Eco” yang berarti lingkungan dan “brick” yang berarti bata yang jika digabung artinya secara umum menjadi sebuah bata yang ramah lingkungan.

Disebut “bata” karena ia dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan. Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali atau dijadikan perabot seperti kursi, meja dan partisi.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *