Pasca Perpanjangan Masa Tanggap Darurat Gempa Bumi, Rumah Sakit Apung Unair Lanjutkan Misi Kemanusiaan di NTT

Al-Qadri Ramadhan
Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) (Foto: unair.ac.id)
Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) (Foto: unair.ac.id)

MANGGARAI, Quarta.id- Pemerintah Kabupaten Manggarai resmi memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap darurat penanganan bencana pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores.

Perpanjangan masa tanggap darurat tahap kedua ini ditetapkan berlaku selama 14 hari ke depan, menyusul berakhirnya tahap pertama pada Jumat (28/8/2026) lalu.

Keputusan strategis tersebut disampaikan oleh Bupati Manggarai Herybertus Geradus Laju Nabit saat mengikuti rapat koordinasi penanganan bencana secara virtual bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melkiades Lakalena dari Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Kamis (27/8/2026) dikutip dari infopublik.id

BACA JUGA: Memotret Aktivitas Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, Layani Masyarakat di Kepulauan Sumenep

Perpanjangan status tanggap darurat gempa bumi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk tetap hadir di tengah masyarakat Dampek. Setelah membantu menangani korban pasca bencana, RSKKA memutuskan melanjutkan pelayanan hingga masa tanggap darurat berakhir pada Sabtu (12/9/2026).

Direktur RSKKA, Dr Agus Harianto SpB, menjelaskan keterbatasan tenaga dokter spesialis membuat RSKKA menggandeng berbagai lembaga kemanusiaan. Di antaranya, organisasi profesi dan rumah sakit yang hadir di Dampek. 

“Kolaborasi tersebut kemudian melahirkan Rumah Sakit Lapangan Kolaborasi (RSLK) Dampek yang pada masa tanggap darurat berfokus menangani trauma fisik, seperti patah tulang dan luka akibat bencana,” tuturnya melalui laman unair.ac.id.

BACA JUGA: Akademisi UNAIR Beberkan Tips Sehat dan Aman Konsumsi Daging Kurban

Kehadiran RSKKA turut menjawab persoalan akses layanan kesehatan bagi warga Dampek. Sebelumnya, sebagian pasien memilih tidak menjalani rujukan ke RSUD Borong Manggarai Timur karena jarak tempuh dari pantai utara menuju pantai selatan menempuh waktu lima hingga enam jam. Biaya transportasi dan kebutuhan hidup selama menjalani perawatan di Borong juga menjadi pertimbangan.

“Kondisi tersebut membuat sebagian warga yang membutuhkan operasi akhirnya memilih bertahan di Dampek. RSKKA kemudian mendekatkan layanan operasi dengan berlabuh di Teluk Nangga Lirang, tidak jauh dari pemukiman warga,” jelas Agus.

BACA JUGA: Kapal Kemanusiaan PMI Kirim Bantuan 258 Ton untuk Korban Gempa NTT, JK Pastikan Distribusi Tepat Sasaran

Oleh RSKKA, pemulihan pasca bencana tidak berhenti ketika luka fisik mulai tertangani. Perpanjangan status tanggap darurat hingga Sabtu (12/9/2026) membuka ruang bagi RSKKA untuk melanjutkan pendampingan masyarakat, terutama dalam aspek psikologis.

Agus mengakui, aspek trauma healing masih menjadi bagian yang belum banyak mereka sentuh selama pelayanan awal. Karena itu, RSKKA berencana menghadirkan psikolog atau dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat Dampek. 

“Seluruh pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga sepakat melanjutkan pelayanan dengan mengirimkan psikiater atau psikolog dan dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat Dampek,” imbuhnya.

Ikuti Kami :
Posted in

BERITA LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Image 2024-01-11 at 07.35.08