Ahmad Riadi
MAKASSAR, Quarta.id- Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Makassar (UNM), menuntaskan pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 bersama Kelompok Tani Setia Kawan di Desa Telle, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone.
Kegiatan yang didanai melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini menerapkan teknologi pengering hibrid untuk mendukung penanganan pascapanen bawang merah dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pengeringan konvensional yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
“Salah satu persoalan utama yang dihadapi petani bawang merah di Desa Telle adalah proses pengeringan pascapanen yang masih dilakukan secara konvensional melalui penjemuran terbuka,” ujar Ketua Tim PkM UNM Dr. Rizal Irfandi, S.Si., M.Si. pada kegiatan yang berlangsung Rabu (19/8/2026)
Metode tersebut menurut Rizal, membutuhkan waktu relatif lama dan sangat dipengaruhi oleh hujan serta kelembapan udara. Kondisi ini dapat menyebabkan pengeringan tidak merata, meningkatkan risiko kerusakan produk, serta menurunkan mutu bawang merah.
Data kondisi awal yang dapat ditonjolkan, disebut susut pascapanen diperkirakan sekitar ±25% dan waktu pengeringan konvensional sekitar 7-10 hari.
Sebagai solusi, tim Tim PKM UNM menerapkan teknologi pengering hibrid yang mengombinasikan pemanfaatan energi matahari dengan sumber panas tambahan serta sistem sirkulasi udara terkontrol. Teknologi ini dirancang agar proses pengeringan dapat berlangsung lebih stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.
Pengering hibrid bekerja dengan memanfaatkan dua sumber energi untuk proses pengeringan, yaitu energi matahari melalui panel surya dan sumber panas tambahan dari kompor berbahan bakar gas. Energi tersebut digunakan untuk membantu menghasilkan dan mempertahankan udara panas di dalam ruang pengering.
Bawang merah ditempatkan pada rak-rak pengering sehingga udara panas dapat bersirkulasi dan mengenai produk secara lebih merata. Pada saat energi matahari mencukupi, proses pengeringan dapat memanfaatkan sumber energi dari panel surya.
Ketika intensitas matahari berkurang atau kondisi cuaca tidak mendukung, sumber panas dari kompor berbahan bakar gas digunakan sebagai energi tambahan agar proses pengeringan tetap berlangsung. Kombinasi kedua sumber energi inilah yang menjadikan alat tersebut disebut pengering hibrid.
Suhu pengeringan dijaga pada rentang 40–60°C agar proses berlangsung lebih terkendali dan menghasilkan pengeringan bawang merah yang lebih merata.
Penerapan teknologi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, instalasi dan uji fungsi alat, pelatihan pengoperasian, praktik pengeringan bawang merah, hingga pendampingan dan evaluasi bersama mitra. Anggota kelompok tani dilibatkan secara langsung agar mampu memahami prinsip kerja, mengoperasikan, serta melakukan perawatan teknologi secara mandiri.
Teknologi pengering diharapkan mendukung dihasilkannya bawang merah kering dengan mutu yang lebih seragam, kadar air yang lebih terkontrol, serta daya simpan yang lebih baik dibandingkan pengeringan konvensional. Produk tersebut diharapkan memberikan nilai tambah bagi hasil panen petani.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar penggunaan alat, tetapi kemampuan kelompok tani dalam mengelola proses pascapanen secara lebih efektif, menjaga mutu produk, dan mengoperasikan teknologi secara mandiri sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan setelah program berakhir,” lanjut Rizal Irfandi.
“Sebelumnya kami masih sangat bergantung pada panas matahari untuk mengeringkan bawang. Jika cuaca tidak mendukung, waktu pengeringan menjadi lebih lama. Dengan adanya pengering hibrid dan pelatihan dari tim UNM, kami mendapatkan alternatif pengeringan yang lebih terkontrol sekaligus belajar cara mengoperasikan dan merawat alat.” Kata Muh. Arif selaku Ketua Kelompok Tani Setia Kawan.
Untuk menjaga keberlanjutan program, teknologi pengering hibrid direncanakan dikelola secara kolektif oleh kelompok tani setia kawan. Penggunaan alat diatur bersama, termasuk mekanisme pemeliharaan, sehingga teknologi tidak berhenti digunakan setelah kegiatan PkM selesai tetapi dapat menjadi bagian dari sistem penanganan pascapanen kelompok.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026, penerapan teknologi tepat guna yang disertai pelatihan dan pendampingan diharapkan memperkuat kemandirian Kelompok Tani Setia Kawan dalam mengelola hasil panen bawang merah. Peningkatan efisiensi pengeringan, pengurangan kehilangan pascapanen, perbaikan mutu produk, serta penguatan manajemen usaha diharapkan pada akhirnya meningkatkan nilai tambah dan keberlanjutan usaha tani bawang merah di Desa Telle.