Ahmad Riadi
BONE, Quarta.id- Literasea, gerakan masyarakat peduli lingkungan di Teluk Bone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, melaksanakan aksi bersih sungai perdana di Sungai Bulu, Desa Kading, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, pada Sabtu (24/1/2026).
Aksi ini berhasil mengangkat sekitar 70 kg sampah plastik yang dikumpulkan dalam lima karung besar. Kegiatan melibatkan para relawan Literasea dan warga setempat, menggunakan lima perahu untuk menjangkau titik-titik sampah di sungai.
Dukungan penuh diberikan oleh Kepala Desa Kading, Andi Tuty Suryani, yang turut memfasilitasi keterlibatan warga.
BACA JUGA: Inisiatif Sekolah Ekologis: Dorong Kesadaran Lingkungan Sejak Usia Dini
Pendiri Literasea, Bakti Munir, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari program Bersih Sungai untuk mencegah sampah plastik mengalir ke laut. “Setiap hari, ratusan kilogram sampah plastik dibuang melalui sungai-sungai yang bermuara di Teluk Bone. Hari ini kami memulai aksi nyata di Sungai Bulu agar pencemaran tidak terus merusak ekosistem dan mengancam biota laut,” ujarnya.
Bakti memaparkan dampak buruk sampah plastik yang sangat nyata bagi masyarakat pesisir. Dari sisi ekonomi, pencemaran membuat nelayan semakin sulit menangkap ikan karena habitat terganggu, serta mengganggu budidaya rumput laut di sekitar muara. “Laut adalah lahan nafkah ribuan nelayan Teluk Bone. Sampah plastik membuat mereka harus melaut lebih jauh ke tengah laut,” katanya.
BACA JUGA: Seasoldier: Oase di Tengah Apatisme Publik pada Isu Lingkungan
Dari sisi kesehatan, sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik masuk ke rantai makanan biota laut. Mikroplastik dimakan ikan kecil, berpindah ke ikan besar, hingga akhirnya sampai di meja makan masyarakat.
“Para ahli memperingatkan bahaya mikroplastik dalam tubuh manusia, termasuk risiko kanker dan penyakit kulit,” katanya menambahkan.
BACA JUGA: Mengenal Dioksin, Zat Beracun Penyebab Kanker yang Dihasilkan Saat Bakar Sampah
Lebih lanjut, sampah plastik memperparah emisi karbon dan pemanasan global. Botol plastik yang tidak terurai selama puluhan tahun melepaskan gas metana saat mengapung di laut, sehingga memperburuk perubahan iklim.
Literasea memopulerkan hashtag #TelukBoneBiru untuk menggugah kesadaran masyarakat agar mengurangi pemakaian plastik dan tidak lagi membuang sampah ke sungai. “Kami memulai dari rumah sendiri di Teluk Bone, karena perubahan besar dimulai dari langkah kecil,” tegas Bakti.
Aksi Bersih Sungai Literasea akan terus dilakukan secara rutin di sungai-sungai yang bermuara Teluk Bone. Selain itu, Literasea memiliki tiga program utama lainnya:
BACA JUGA: Presiden Baru dan “Bom Waktu” Bernama TPA
1.Edukasi anak pesisir melalui gerakan #BotolJadiBuku: anak SD dan SMP di pesisir Teluk Bone mendapat buku bacaan dengan menukar botol plastik, sekaligus belajar cinta laut melalui cerita dan dongeng di Rumah Baca Literasea.
2.Merawat Mangrove di sekitar muara Teluk Bone untuk melindungi pesisir dan menyerap karbon.
3.Mitigasi Iklim melalui edukasi masyarakat pesisir tentang dampak perubahan iklim terhadap kehidupan dan cara menguranginya.
“Meskipun ini langkah kecil, kami yakin manfaatnya sangat besar bagi bumi, laut, dan generasi mendatang,” tutup Bakti.