Bakti M. Munir
DUNIA sepak bola selamanya akan mengingat Pep Guardiola. Nama besar di lapangan hijau, sekaligus sosok berjiwa besar di luar lapangan.
Pep bersama Manchester City baru saja menumbangkan Arsenal 2-0 di final Carabao Cup 2026, Minggu (22/3/2026). Dua gol Nico O’Reilly mengantarkan tim Biru Langit mengangkat trofi pertama mereka musim ini.
BACA JUGA: Kisah Han Willhoft-King: Nyaris Perkuat Timnas, Pensiun Dini dari Sepakbola demi Lanjut Kuliah
Trofi ini menjadi yang ke-20 bagi Manchester City di era Pep Guardiola. Bagi pelatih Spanyol berusia 55 tahun itu, gelar kali ini terasa sangat istimewa karena merupakan koleksi trofi ke-40 sepanjang kariernya sebagai pelatih. Pep kini semakin mendekati rekor Sir Alex Ferguson yang mengoleksi 49 trofi.
Namun yang membuat pencapaiannya lebih mengesankan adalah efisiensinya. Seluruh trofi diraih hanya dalam 17 tahun — jauh lebih singkat dibandingkan Ferguson yang membutuhkan 39 tahun.
Spesialis Trofi
“Setiap musim adalah trofi.” Ungkapan itu pas sekali menggambarkan Pep. Dalam 17 tahun karier kepelatihan, ia hanya sekali hampa gelar, yaitu pada musim 2016-2017. Di 16 musim lainnya, trofi selalu datang.
BACA JUGA: Gawat! Perang dan Kriminalitas Ancam Gagalkan 3 Negara Ini Ikut Piala Dunia 2026
Saat ini beredar spekulasi bahwa musim ini bisa menjadi yang terakhir Pep di Etihad Stadium. Jika benar ia pergi, para pendukung The Citizens tetap akan mengenangnya sebagai manajer terhebat dalam sejarah klub.
Pria kelahiran 18 Januari 1971 ini telah mempersembahkan 20 trofi untuk Manchester City dalam 10 tahun: 6 gelar Premier League, 5 Carabao Cup, 3 Piala FA, 3 Community Shield, 1 Liga Champions, 1 Piala Super UEFA, dan 1 Piala Dunia Antarklub.
Peluang merebut gelar Premier League musim ini pun masih terbuka. City saat ini berada di posisi kedua klasemen dengan 61 poin, terpaut 9 poin dari Arsenal di puncak, namun unggul satu pertandingan.
BACA JUGA: Wajar Ronaldo Makin Dicintai Penggemar di Arab Saudi, Ini Alasannya!
Di Barcelona, Pep yang terkenal dengan tiki-taka menciptakan era emas. Dalam empat musim, ia meraih 14 trofi, termasuk 3 La Liga, 2 Liga Champions, dan 2 Piala Dunia Antarklub. Barcelona saat itu benar-benar mendominasi rival abadinya, Real Madrid.
Sementara bersama Bayern Munchen selama tiga musim, Pep sukses mengoleksi 7 trofi: 3 Bundesliga, 2 DFB-Pokal, 1 Piala Super UEFA, dan 1 Piala Dunia Antarklub.
Lantang Bela Palestina
Pep dipuji bukan hanya karena prestasi di lapangan. Di luar lapangan, ia dihormati karena keberaniannya membela kemanusiaan dan perdamaian. Dengan lantang, Pep berulang kali membela Palestina dari agresi zionis Israel. Ia tak ragu mengecam genosida dan kejahatan kemanusiaan yang menimpa warga Gaza.
BACA JUGA: Arab Saudi Resmi Tuan Rumah Piala Dunia 2034, Aktivis HAM Kecam Keputusan FIFA
Pada konferensi pers pra-pertandingan melawan Newcastle United, pada leg kedua semifinal Carabao Cup awal Februari 2026, Pep berbicara panjang lebar.
“Tidak pernah dalam sejarah umat manusia kita memiliki informasi sejelas ini,” katanya, seperti dilansir Al Jazeera.
Sorotannya tak hanya Gaza. “Genosida di Palestina, apa yang terjadi di Ukraina, di Rusia, di Sudan, di mana-mana,” ujar mantan pemain Brescia, AS Roma, dan Barcelona itu.
Bagi pelatih atau pemain, gelar juara adalah puncak pencapaian. Mereka siap bertarung habis-habisan demi trofi.
Namun Pep selalu mengingatkan bahwa sepak bola bukanlah segalanya. Ada hal-hal lebih besar yang menuntut keberpihakan. Ia tidak ingin merayakan kemenangan sambil abai pada penderitaan manusia.
BACA JUGA: Luar Biasa! Veda Pratama Podium 3 Moto3 Brasil, Pembalap Indonesia Pertama Juara Grand Prix
Pep mengajak semua orang untuk peka melihat ketidakadilan di dunia, terutama pembantaian anak-anak oleh Israel.
“Apa yang terjadi di depan kita? Apakah Anda ingin melihatnya? Itu masalah kita sebagai manusia,” tegasnya.
Gambar-gambar dari wilayah perang sangat menyakitinya. “Membunuh ribuan orang tak berdosa, itu menyakiti saya,” ujarnya.
“Ketika Anda punya ide dan harus mempertahankannya dengan membunuh ribuan orang? Maaf, saya akan membela. Selalu. Saya akan ada di sana, selalu,” katanya penuh komitmen.
BACA JUGA: Hukuman 7 Laga Bentancur, Inilah Sepakbola Inggris yang Tak Beri Ruang untuk Rasisme
Pelatih asal Catalan ini menegaskan perlindungan nyawa manusia adalah yang terpenting. Di era teknologi canggih di mana manusia bisa mencapai bulan, ia prihatin manusia masih saling bunuh. “Tetapi tetap saja, saat ini kita saling membunuh. Untuk apa?” katanya dengan nada prihatin.
Pria bernama lengkap Josep Guardiola i Sala ini sadar posisinya sebagai figur publik. Ia berharap suaranya dapat membawa perubahan.
“Itulah mengapa di setiap kesempatan, saya akan bersuara untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik. Dari sudut pandang saya, keadilan? Anda harus berbicara,” tuturnya.
BACA JUGA: UEFA Resmi Ubah Format Liga Champions, Gunakan Sistem Liga, Pertandingan Lebih Banyak
Genosida di Gaza telah menewaskan sedikitnya 71.803 orang dan melukai 171.575 orang sejak Oktober 2023. Pep menyesalkan sikap diam dunia meski pembantaian terhadap anak-anak terus berlangsung.
“Kita telah meninggalkan mereka sendirian, terlantar,” kata Guardiola yang mengenakan keffiyeh saat menghadiri acara amal di Spanyol pada 29 Januari 2026.
Pep menegaskan bahwa tidak ada masyarakat yang sempurna, termasuk dirinya sendiri. Namun semua orang harus berbuat sesuatu untuk menjadi lebih baik.
“Saya punya banyak teman di banyak negara. Ketika Anda punya ide dan harus membunuh ribuan orang untuk mempertahankannya? Maaf, saya akan membela. Saya akan selalu ada di sana, selalu,” janjinya.