Redaksi
Musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga Februari membuat Indonesia kembali berada dalam masa rawan bencana hidrometeorologi.
Dalam beberapa pekan terakhir, Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara mengalami bencana besar berupa banjir bandang, luapan sungai, hingga longsor yang menelan korban jiwa dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.
Tragedi beruntun ini menunjukkan bahwa persoalan bencana bukan hanya soal hujan deras, tetapi gabungan antara cuaca ekstrem, kerentanan lingkungan, serta lemahnya mitigasi di tingkat daerah.
Di berbagai wilayah Sumatra yang terdampak, cura hhujan tinggi dalam waktu singkat membuat sungai tak mampu menahan debit air.
Pada saat yang sama, kondisi hulu yang mengalami degradasi lingkungan — mulai dari penebangan, alih fungsi lahan, hingga menurunnya kualitas tata kelola daerah aliran sungai — membuat daya serap tanah melemah.
Ketika permukaan tanah jenuh, air langsung mengalir deras kekawasan hilir dan memicu banjir bandang. Situasi ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur mitigasi, seperti peringatan dini yang tidak optimal, jalur evakuasi yang belum tertata, dan respon cepat yang seringkali terhambat oleh cuaca serta kondisi geografis.
Bencana yang terjadi di Sumatra seharusnya menjadi peringatan bagi seluruh daerah di Indonesia. Dengan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi dan frekuensi hujan ekstrem yang meningkat akibat perubahan iklim, risiko bencana hidrometeorologi tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu.
Setiap provinsi—dari Aceh hingga Papua—memiliki potensi yang sama jika tidak melakukan langkah mitigasi yang serius.
Pemerintah daerah perlu memperkuat tata kelola lingkungan, memperketat pengawasan penggunaan lahan, serta memastikan sistem peringatan dini berfungsi dan dapat diakses masyarakat
Mitigasi tidak boleh hanya menjadi rutinitas administratif yang muncul setelah bencana terjadi, tetap iharus menjadi investasi jangka panjang yang dipersiapkan jauh sebelum musim hujan tiba.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran besar. Kesadaran terhadap tanda-tanda potensi bahaya, kesiapan menghadapi kondisi darurat, serta keterlibatan dalam menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal menjadi bagian penting dari upaya pengurangan risiko.
Gotong-royong lokal, yang sering menjadi kekuatan masyarakat Indonesia, perlu dihidupkan kembali dalam konteks kebencanaan: saling memberi informasi, membantu evakuasi, dan bekerjasama menjaga kawasan rawan agar tetapaman. Tanpa partisipasiaktif warga, mitigasi dari pemerintah tidak akan berjalan efektif.
Pelajaran dari bencana di Sumatera menunjukkan bahwa kesiapsiagaan adalah satu-satunya jalan untuk mengurangi risiko korban dan kerugian. Ketika hujan ekstrem menjadi semakin sering, kita tidak boleh hanya bergantung pada doa atau keberuntungan.
Indonesia membutuhkan kewaspadaan kolektif, kebijakan yang tegas, dan komitmen bersama untuk menjaga lingkungan. Jika langkah ini dilakukan sejak sekarang, kita memiliki peluang besar untuk mencegah tragedi serupa terulang di daerah lain.
Musim hujan boleh datang setiap tahun, tetapi bencana besar tidak harus menjadi rutinitas yang terus mengulang duka.
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.,
Dosen di Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA).
Ahli dalam bidang hidrologi Forensik dan Sumber daya Air. Aktif dalam riset pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, serta edukasi kebencanaan di masyarakat.